Limapuluh Kota, Sumbar24jam.com – Secercah harapan kini mulai menghampiri keluarga Madinah, bayi perempuan berusia 7 bulan asal Jorong Ketinggian, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Setelah kisah pilunya viral di media sosial, gelombang simpati dan bantuan dari para donatur kini mulai mengalir untuk membantu perjuangan hidup sang bayi. Anak dari seorang kuli bangunan ini harus bertaruh nyawa melawan komplikasi penyakit berat di usianya yang masih sangat belia. Madinah didiagnosis mengidap jantung bocor bawaan, hipotiroid, serta dugaan kuat (suspect) Leukimia Akut atau kanker darah.
Respons positif juga datang dari Bupati Lima Puluh Kota, H. Safni Sikumbang, yang menyatakan komitmennya untuk mengupayakan pengobatan lanjut bagi Madinah.
“Bupati merespon dengan baik agar Madinah bisa terbantu untuk proses pengobatan lebih lanjut,” ujar ibunda Madinah sambil menunjukkan pesan singkat dari orang nomor satu di kabupaten tersebut ke awak media.
Pihak keluarga sangat berharap pemerintah daerah dapat membantu memfasilitasi pengalihan kepesertaan BPJS Mandiri mereka menjadi BPJS gratis (PBI) dari pemerintah. Hal ini sangat krusial mengingat pengobatan intensif yang akan dijalani Madinah ke depan membutuhkan biaya yang sangat besar.
Melalui ruang media, keluarga besar Madinah menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mengulurkan bantuan finansial maupun moral, di antaranya:
– Babinsa Ketinggian, Fajar Siahaan (Perwakilan Dandim 0306/50 Kota)
– Bhabinkamtibmas Ketinggian, Brigade Ade Riski (Perwakilan Polres 50 Kota)
– Komunitas Pertap Payakumbuh (Bapak Babe Hanifa dan Bapak Hasan Basri)
– Lazismu Kota Payakumbuh
– Madinah dari Aksi Saling Bantu Payakumbuh
– Baznas Kabupaten Lima Puluh Kota
– Baznas Provinsi Sumatera Barat
– Tim Relawan Kemanusiaan Luak 50
– Insan Pers Balai Wartawan Luak 50
– Segenap netizen dan donatur hamba Allah yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Perjuangan Madinah dimulai sejak ia lahir pada 7 November 2025 dengan kondisi jantung bocor bawaan. Sejak Februari 2026, ia telah menjadi pasien rujukan di RSUP dr. M. Djamil Padang. Kondisinya kian kritis pada 27 Maret 2026 akibat gagal napas, sehingga harus dilarikan ke ruang ICU/PICU RS Unand. Saat itu, kadar Hemoglobin (Hb) Madinah anjlok drastis ke angka ekstrem 1,2 dan membutuhkan transfusi hingga 6 kantong darah.
Di tengah masa kritis tersebut, kepesertaan BPJS gratis milik mereka mendadak nonaktif. Demi menyelamatkan nyawa sang anak, keluarga terpaksa mengalihkan kepesertaan ke layanan BPJS Mandiri agar perawatan tetap berjalan.
Ujian kembali datang pada pertengahan April 2026. Hasil tes sumsum tulang belakang (Bone Marrow Puncture/BMP) di RSUP dr. M. Djamil Padang mendeteksi adanya sel kanker sebesar 3%. Pada pemeriksaan BMP kedua di bulan Mei, sel kanker tersebut melonjak drastis menjadi 17%. Dokter kemudian mendiagnosis Madinah mengidap Bisitopenia arah Leukimia Akut (SUSP ALL/AML).
Kondisi Ekonomi Hingga Juni 2026, Madinah harus keluar masuk ruang intensif (PICU) RS Adnan WD Payakumbuh dan RSUP dr. M. Djamil Padang karena kondisi Hb dan trombositnya yang kerap terjun bebas. Jika terlambat mendapat donor darah, Madinah berisiko tinggi mengalami pendarahan otak karena keterbatasan jantungnya memompa darah ke kepala.
Kondisi ini membuat perekonomian keluarga lumpuh total. Sang ayah terpaksa sering kehilangan penghasilan karena harus mendampingi Madinah berobat ke Kota Padang selama berhari-hari.
“Tabungan kami sudah habis, barang-barang berharga pun sudah tidak ada yang bisa dijual. Bahkan, kalau pulang dari RS M. Djamil Padang, kami sering terpaksa membayar ongkos travel dengan sistem COD (bayar di rumah) setelah meminjam uang tetangga,” ungkap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Keluarga kecil ini masuk dalam kategori miskin ekstrem (Desil 4), namun ironisnya belum pernah tersentuh bantuan sosial reguler seperti PKH atau BPNT. Selama ini, mereka hanya bertahan berkat solidaritas eksternal, termasuk santunan masing-masing Rp2 juta dari Dandim 0306 dan Polres 50 Kota sebelum Lebaran Haji lalu. Seluruh uang tersebut habis digunakan untuk menebus kantong darah dan trombosit yang tidak ditanggung oleh BPJS.
Saat ini keluarga berharap menanti keajaiban medis serta berdasarkan instruksi dokter spesialis hematologi, satu-satunya jalan keluar medis jangka panjang bagi Madinah adalah menjalani transfusi darah rutin seumur hidup atau melakukan tindakan transplantasi sumsum tulang belakang. Biaya operasi besar tersebut diperkirakan menembus angka Rp2 Miliar.
Per hari Senin (22/6/2026), Madinah telah kembali dibawa ke RSUP dr. M. Djamil Padang untuk menjalani perawatan. Mengingat kapasitas kamar rawat inap sementara sedang penuh, saat ini Madinah terpaksa dirawat sementara di ruang IGD. Di rumah kontrakan maupun di rumah sakit, sang ibu hanya bisa memeluk erat tubuh mungil Madinah yang kerap rewel, batuk, sesak napas, dan mendadak pucat.
Bagi para pembaca, dermawan, maupun donatur yang tergerak hatinya untuk meringankan beban dan membantu biaya pengobatan serta operasional medis bayi Madinah, bantuan dapat disalurkan langsung melalui rekening resmi keluarga:
Nama Bank: BANK BCA
Nomor Rekening: 6145336639
Atas Nama: Nila Sri Rahayu
GOPAY: 083125478335
Konfirmasi Donasi (WhatsApp): 0821-6971-1142 (Arul – Relawan Kemanusiaan Luak 50) Setiap doa dan uluran tangan Anda adalah penyambung napas bagi masa depan bayi Madinah.
![]()
