Menjaga Hangat Malam Payakumbuh: Kisah Legenda Aie Aka dan Kalikih Santan Ghindo Saidi yang Bertahan Sejak 1968

Payakumbuh, Sumbar24jam.com – Di tengah gempuran tren kuliner modern dan minuman kekinian yang silih berganti, sebuah gerobak sederhana di sudut Kota Payakumbuh tetap bergeming menjaga tradisi. Berdiri kokoh melintasi zaman, lapak Aie Aka dan Kalikih Santan Ghindo Saidi telah menjadi legenda hidup kuliner malam yang dicintai lintas generasi sejak tahun 1968.
Saat ini, lapak legendaris tersebut menetap di kawasan yang sangat strategis, tepatnya di sekitaran Jalan A. Yani No. 47–51, Nunang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Berada di jalur utama kota, lokasi baru ini memudahkan para pemburu kuliner malam dan pencandu minuman tradisional untuk singgah kapan saja.
Di bawah temaram lampu jalan, Ghindo Saidi meracik setiap porsi minumannya dengan kesetiaan resep asli yang diwariskan turun-temurun. Bukan dengan strategi promosi digital atau papan nama yang megah, kelezatan legendaris ini murni bertahan berkat konsistensi rasa, keaslian bahan baku, dan kesabaran tanpa batas.
Menu utama yang menjadi primadona di gerobak ini adalah Aie Aka atau yang di beberapa daerah Minang karib dikenal sebagai ubek tawa. Alih-alih terbuat dari akar pohon, minuman menyegarkan ini berbahan dasar saripati perasan daun cincau alami yang dibiarkan mengental hingga bertekstur lembut mirip agar-agar.
Khasiatnya yang dipercaya ampuh secara tradisional untuk meredakan panas dalam, perut kembung, hingga melancarkan pencernaan membuat Aie Aka Ghindo Saidi selalu diburu oleh konsumen yang peduli akan kesehatan tubuh.
Tak kalah legendaris, menu Kalikih Santan menawarkan perpaduan cita rasa unik yang manis sekaligus gurih. Minuman tradisional ini diracik dari potongan buah pepaya (kalikih) pilihan yang disiram kuah santan kental matang yang harum.
Saidi menggunakan air gula merah yang dimasak perlahan hingga mengental sempurna, lalu dilengkapi dengan kucuran susu kental manis untuk menghadirkan sensasi rasa creamy yang memanjakan lidah.
Semua varian menu khas tradisional di lapak ini disajikan dengan harga yang bervariasi namun tetap sangat bersahabat di kantong. Saidi sengaja mematok harga terjangkau agar minuman kaya manfaat ini bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka.
Keunikan lain dari lapak legendaris ini adalah jam operasionalnya yang panjang. Ghindo Saidi memilih setenang malam membuka lapaknya hingga pukul 02.00 WIB dini hari. Waktu larut malam ini sengaja dipilih karena saat itulah masyarakat atau para pengendara yang melintas sering kali mencari kehangatan di tengah dinginnya angin malam Kota Payakumbuh.
“Kalau malam orang lebih butuh yang hangat,” tutur Saidi ramah. Di balik gerobak tuanya yang kini menjadi saksi bisu pasang surut kehidupan kota di Jalan A. Yani, Ghindo Saidi membuktikan bahwa ketulusan meracik resep leluhur tidak akan pernah kehilangan tempat di hati masyarakat. Baginya, mempertahankan rasa sejak 1968 bukan sekadar persoalan mencari nafkah, melainkan sebuah amanah untuk terus merawat warisan rasa bagi Ranah Minang.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *