Jejak Sejarah PRRI: Kisah Bus PO Sinamar dan Pelarian Rahasia Keluarga Soemitro ke Singapura

Limapuluh Kota, Sumbar24jam.com — Lembaran sejarah sering kali hanya mencatat tanggal, nama tokoh besar, dan rangkaian peristiwa politik makro. Namun di balik riuh rendah pergolakan masa lalu, selalu ada sisi kemanusiaan yang sunyi tentang kegelisahan, untung-untungan nasib, dan ketakutan mendalam yang dirasakan oleh mereka yang menjalaninya.

Salah satu fragmen yang jarang terungkap ke publik adalah kisah perjalanan rahasia Prof. Soemitro Djojohadikusumo bersama keluarganya saat melarikan diri menuju Singapura di masa pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) akhir dekade 1950-an. Tabir sejarah ini dibuka kembali oleh Nusyirwan Abbas Kamil, putra almarhum Abbas Sutan Medan, pemilik perusahaan otobus legendaris PO Sinamar yang turut mempertaruhkan nyawa membantu pelarian tersebut.

Pusaran PRRI dan keluarga yang terombang-ambing pada akhir tahun 1950-an, situasi politik Indonesia berada di titik nadir. Banyak tokoh sipil dan militer di daerah merasa pemerintah pusat semakin otoriter dan mengabaikan aspirasi daerah. Dari kegelisahan kolektif itulah lahir gerakan PRRI di Sumatera Barat. Prof. Soemitro Djojohadikusumo, ekonom ulung dengan jaringan internasional yang luas, berada di lingkaran utama gerakan ini.

Ia dipandang sebagai jembatan krusial untuk menghubungkan perjuangan daerah dengan dunia luar. Namun di balik panggung politik yang panas, ada sebuah keluarga kecil yang jiwanya terancam. Istri Prof. Soemitro, Dora Marie Sigar, bersama anak-anaknya terpaksa ikut mengungsi ke pedalaman Sumatera Barat.

Setelah berbulan-bulan terpisah dan dihantui kecemasan, mereka akhirnya bisa berkumpul kembali, namun bukan dalam suasana damai. Mereka harus hidup nomaden, berpindah dari satu hutan ke hutan lain, dari satu nagari ke nagari lain.

Bagi anak-anak yang masih sangat kecil, seperti Bianti yang baru berusia 8 tahun, Maryani, serta sang adik yang baru menginjak usia 5 tahun Prabowo Subianto suasana mencekam itu tentu sulit dicerna akal sehat mereka. Rumah hangat di Jakarta telah hilang.

Hari-hari mereka diisi dengan bisikan pelan orang dewasa dan perpindahan logistik yang menegangkan. Nama-nama nagari terpencil seperti Kamang, Pagadih, dan Koto Tinggi pun mendadak menjadi memori masa kecil mereka yang tak biasa.

Pertaruhan nyawa menggunakan Bus PO Sinamar saat situasi kian menjepit dan keputusan untuk meninggalkan tanah air harus diambil, sejumlah tokoh Sumatera Barat dari kalangan Masyumi bahu-membahu menyusun rencana penyelamatan.

Sebuah rombongan kecil dibentuk untuk mendampingi keluarga Soemitro menuju pelabuhan tikus. Di dalam rombongan itu ada nama-nama besar seperti Abbas Sutan Medan, Anwar Sutan Saidi, Darmansyah Taher, dan Muhammad Roeslan.

Bantuan yang mereka berikan bukanlah hal sepele. Di masa ketika hukum rimba politik berlaku, membantu seorang buronan negara berarti siap menghadapi konsekuensi terburuk: eksekusi atau penjara.

Guna mengelabui patroli tentara pusat, operasi penyelamatan ini menggunakan jalur darat yang ekstrem. Tujuh unit armada PO Sinamar sebenarnya sudah disembunyikan di ladang-ladang penduduk agar tidak disita. Namun demi misi ini, sebuah bus PO Sinamar yang baru dibeli pada tahun 1957 dikeluarkan dari persembunyian. Di balik kemudinya, duduk seorang sopir setia bernama Anis, atau yang akrab disapa Mak Anih.

Tanpa banyak bicara, Mak Anih memegang kendali setir yang akan menentukan nasib masa depan sebuah dinasti politik Indonesia.
Bus PO Sinamar itu membelah jalanan sepi dari wilayah Limapuluh Kota menuju Teluk Kuantan. Di dalam kabin bus yang pengap, kesunyian mencekam begitu terasa. Setiap kilometer yang dilalui menjauhkan mereka dari tanah kelahiran, menembus ketidakpastian menuju masa depan yang buram.

Pelayaran kapal barang dan pengasingan 11 tahun dan setibanya di Teluk Kuantan, perjalanan dilanjutkan secara estafet menuju Tanjung Pinang. Dari sanalah, keluarga Prof. Soemitro diselundupkan menyeberangi selat menuju Singapura menggunakan sebuah kapal barang (kargo).

Bagi orang awam, pelayaran itu mungkin hanyalah perpindahan geografis. Namun bagi keluarga Djojohadikusumo, riak air selat Malaka hari itu menandai berakhirnya kehidupan normal mereka dan dimulainya babak pahit sebagai pelarian politik. Tidak ada yang tahu berapa lama mereka akan terombang-ambing di luar negeri. Tidak ada yang tahu apakah mereka bisa kembali menginjakkan kaki di tanah air.

Perjalanan darat menembus hutan Sumatera Barat dengan bus PO Sinamar hingga menyeberang ke Singapura itulah yang menjadi hulu dari masa pengasingan panjang keluarga Djojohadikusumo selama 11 tahun di Singapura, Malaysia, Swiss, hingga London.

Kala itu, tidak ada satu pun orang di dalam bus PO Sinamar atau kapal kargo tersebut yang mampu meramal masa depan. Tidak ada yang mengira bahwa anak kecil berusia 5 tahun yang duduk ketakutan di pelukan ibunya dalam bus tersebut Prabowo Subianto puluhan tahun kemudian akan tumbuh menjadi Presiden Republik Indonesia.

Hampir tujuh puluh tahun telah berlalu sejak deru mesin bus Mak Anih membelah kesunyian Limapuluh Kota. Kisah ini dirawat bukan sekadar sebagai catatan kaki sejarah PRRI, melainkan sebagai bukti tak terbantahkan bahwa di tengah pergolakan politik sedahsyat apa pun, ketulusan dan kemanusiaan masyarakat Minangkabau selalu menemukan jalannya untuk menolong sesama.

(Narasi ini disarikan dan disusun kembali berdasarkan penuturan langsung Nusyirwan Abbas Kamil dalam pertemuan di Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota, pada 7 Juni 2026).

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *