Sumbar24jam.com|Pessel – Praktisi pendidikan, konsultan pelatihan guru, dan edukator independen Dr. Itje Chodidjah, M.A. menegaskan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) bukanlah ujian mata pelajaran, melainkan instrumen untuk mengukur kemampuan berpikir peserta didik. Karena itu, peningkatan hasil TKA harus diawali dengan perbaikan kualitas pembelajaran di kelas.
Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Itje Chodidjah saat menjadi narasumber dalam Temu Pendidikan Nusantara (TPN) XIII Kabupaten Pesisir Selatan yang digelar di Painan. Kegiatan ini diikuti ratusan kepala sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan di daerah.
Menurut Dr. Itje, masih banyak pihak yang keliru memahami TKA sebagai ujian mata pelajaran. Padahal, TKA bertujuan mengukur kemampuan peserta didik dalam memahami informasi, bernalar, berpikir kritis, dan memecahkan masalah.
“TKA bukan ujian mata pelajaran, tetapi mengukur kemampuan berpikir anak. Karena itu, untuk meningkatkan hasil TKA, yang harus ditingkatkan terlebih dahulu adalah kemampuan berpikir anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan berpikir tidak terbentuk hanya melalui hafalan atau latihan soal secara berulang. Kemampuan tersebut berkembang melalui proses pembelajaran yang memberi ruang bagi peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, menganalisis, dan menjelaskan alasan atas jawaban yang mereka pilih.
Menurutnya, faktor yang paling menentukan keberhasilan peserta didik bukan semata banyaknya materi yang disampaikan, melainkan bagaimana guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran di kelas.
“Yang harus diperhatikan adalah bagaimana proses guru mengajar. Apakah pembelajaran mampu membuat anak berpikir, atau justru hanya membuat anak menghafal,” katanya.
Dr. Itje menilai guru memiliki peran strategis dalam membangun budaya berpikir di sekolah. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu peserta didik menemukan pengetahuan melalui pengalaman belajar yang aktif dan bermakna.
Ia mendorong para guru untuk menerapkan metode pembelajaran yang dapat mengasah kemampuan bernalar, seperti diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek, pemecahan masalah, serta kegiatan membaca dan menulis yang menuntut pemahaman lebih mendalam.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa kemampuan berpikir merupakan proses jangka panjang yang harus dibangun secara konsisten sejak pendidikan dasar. Dengan demikian, peserta didik akan memiliki fondasi akademik yang kuat saat mengikuti TKA maupun menghadapi tantangan di masa depan.
Dr. Itje juga mengajak orang tua untuk turut berperan dalam membangun budaya belajar di rumah, antara lain dengan membiasakan anak membaca, berdialog, bertanya, dan berani menyampaikan pendapat. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan keluarga sangat penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak.
Di akhir pemaparannya, Dr. Itje berharap seluruh satuan pendidikan tidak memandang TKA sebagai beban atau sekadar target nilai. Sebaliknya, TKA perlu dipahami sebagai alat untuk memetakan kemampuan akademik peserta didik sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Ia optimistis, apabila proses mengajar terus diperbaiki dan pembelajaran benar-benar diarahkan untuk mengembangkan daya pikir, kualitas pendidikan Indonesia akan semakin meningkat.(*)






