SOLOK, Sumbar24jam.com – Ketegangan hebat nyaris berujung bentrok massal antar-kampung pecah di Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Kamis malam hingga Jumat dini hari (5/6/2026).
Konflik dipicu oleh keresahan akut warga terhadap aktivitas mafia penimbunan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi berskala besar untuk pasokan alat berat ekskavator tambang emas ilegal (PETI).
Informasi yang dihimpun dari Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia (LMR-RI) Komisariat Wilayah Sumatera Barat, ketegangan berlangsung alot hingga pukul 02.30 WIB dini hari. Keadaan sempat mencekam akibat konfrontasi fisik antara kelompok masyarakat yang melakukan penggerebekan dengan massa pendukung pihak penimbun solar.
Ketua LMR-RI Komwil Sumbar, Ir. Sutan Hendy Alamsyah kepada awak media mengungkapkan bahwa Nagari Batu Bajanjang merupakan jalur perlintasan utama mobilisasi alat berat dan logistik para penambang emas ilegal menuju kawasan Garabak Data. Akibat lalu lalang kendaraan berat tersebut, fasilitas jalan desa di Batu Bajanjang kini hancur lebur dan rusak parah.
“Yang menambang dan menikmati kekayaan emas itu orang Garabak Data, tetapi yang menanggung penderitaan dan kerusakan infrastruktur jalan adalah masyarakat Batu Bajanjang. Ini memicu tumpukan kekesalan yang mendalam di tengah warga,” ujar Sutan Hendy Alamsyah, Jumat (5/6/2026).
Tingginya intensitas operasional ekskavator di sepanjang aliran Sungai Batang Palangkih memicu terjadinya penimbunan solar subsidi secara masif. Berdasarkan laporan masyarakat, pasokan solar tersebut sengaja dititipkan di rumah-rumah warga secara terstruktur untuk mengelabui pemeriksaan.
Aktor Utama Mencuat, Ketua Pemuda Diduga Terima Suap Investigasi di lapangan serta mengerucut pada dua nama besar yang diduga menjadi aktor intelektual penimbunan BBM ilegpemeriksaan Inisial ZE (Zein) Berdomisili di Ikua Koto, diduga kuat sebagai penimbun utama yang mengoordinasikan penitipan solar di rumah-rumah warga Nazirwanto:
Disebut-sebut sebagai bos tambang emas ilegal besar yang beroperasi di sepanjang Sungai Batang Palangkih sekaligus pemilik pasokan BBM ilegal tersebut.Kondisi sosiologis masyarakat semakin diperparah dengan munculnya dugaan pengkhianatan internal di struktur pemuda nagari.
Ketua pemuda setempat diduga kuat ikut membentengi bisnis haram ini karena menerima aliran dana ilegal atau fee suap sebesar Rp50.000 perunit mobil pengangkut solar yang melintas.
Saling Lapor ke Aparat, Polda Sumbar Diminta Ambil AlihPasca-insiden keributan di lapangan, kedua belah pihak yang bertikai sempat dikumpulkan di Kantor Wali Nagari Batu Bajanjang guna mencegah jatuhnya korban jiwa.
Namun, penyelesaian di tingkat nagari menemui jalan buntu. Satu kubu masyarakat memilih melapor ke Mapolsek setempat, sementara kubu penimbun melayangkan laporan tandingan ke Mapolres Solok (Arosuka).Masyarakat menyatakan mosi tidak percaya jika kasus ini hanya ditangani di level daerah.
Ada dugaan kuat keterlibatan oknum aparat lokal yang ikut mengamankan jalur distribusi serta menerima uang pelicin (uang payung), sehingga para pelaku penimbun dan bos tambang ilegal tersebut terkesan kebal hukum.
Ketua LMR-RI Komwil Sumbar, Ir. Sutan Hendy Alamsyah mendesak Kapolda Sumbar, Ditreskrimsus Polda Sumbar, hingga jajaran terkait untuk segera melakukan intervensi langsung dan menyapu bersih jaringan mafia tambang serta BBM di Tigo Lurah sebelum konflik ini meluas menjadi perang antar-kampung.
TIM
![]()
