Sumbar24jam.com|Pessel-Ada pepatah Minang yang sangat relevan untuk Pilwana serentak nanti di Oktober mendatang.”Baraja ka nan manang,mencontoh ka nan sudah”.Kalimat itu menemukan wujud nyatanya pada sosok Roni Eka Putra alias Baron, Wali Nagari IV Koto Hilie, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan.
Hari ini,Baron dikenal luas sebagai wali nagari yang kreatif, inovatif, aktif, komunikatif, dan dekat dengan warganya.Namun jalan menuju kursi pimpinan itu tidak datang dari titel tinggi atau gelar berderet.Ia datang dari sebuah kisah hidup yang penuh pelajaran.
Sebelum menjadi wali nagari, Roni adalah orang biasa.Tidak bergelar banyak, tidak bertitel tinggi. Sosok yang sederhana, apa adanya.
Bagi yang tidak mengenal dekat, ia mungkin dinilai keras. Siang dijadikan malam, malam dijadikan siang.Tapi bagi keluarga, sahabat, dunsanak, dan masyarakat IV Koto Hilie, Roni adalah definisi lain.
Ia adalah sosok yang rendah hati, merangkul semua kalangan dari niniak mamak, alim ulama,bundo kanduang hingga generasi muda. Jiwanya sosial tinggi,suka menolong tanpa pamrih,ringan tangan dan selalu ada ketika warga membutuhkan.Sifat itulah yang justru menghantarkannya ke hati masyarakat, jauh sebelum namanya masuk dalam bursa calon wali nagari.
Pilwana Serentak Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2025 menjadi panggung pembuktian. Sebanyak 59 nagari serentak menggelar pesta demokrasi, termasuk Nagari IV Koto Hilie.
Di nagari ini, antusiasme luar biasa.Tidak tanggung-tanggung, sembilan nama putra-putri terbaik nagari muncul sebagai kontestan calon wali nagari.
Sesuai ketentuan, hanya lima orang yang berhak melaju ke tahap pemilihan. Empat orang harus tereliminasi melalui Tes Kemampuan Dasar (TKD) di Kabupaten.
Di titik inilah keraguan sempat menyelimuti Baron.Dengan segala kerendahan hati,ia merasa ilmu pengetahuannya mungkin masih di bawah kandidat lain yang bergelar dan berpengalaman.
Namun Allah SWT berkehendak lain.Dengan doa dan usaha maksimal, Roni Eka Putra mengikuti TKD tersebut. Hasilnya mengejutkan banyak pihak.Alhamdulillah, Baron lolos dengan gemilang, meraih peringkat 3 dari 9 calon.Ia sah menjadi calon Wali Nagari IV Koto Hilie.
Kabar itu disambutnya dengan sujud syukur, puji kepada Allah SWT, dan terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga, sahabat, dan seluruh masyarakat IV Koto Hilie yang tak henti mendoakannya.
Setelah lolos TKD, perjuangan belum selesai. Baron fokus blusukan.Pindah dari satu kaum ke kaum lain, dari satu kampung ke kampung lain, dari kedai kopi ke kedai kopi lain.Ia mendengarkan, bukan hanya berbicara. Ia menyapa, bukan hanya disapa.
Perjalanan kampanye tidak selalu mulus. Di tengah jalan, ujian mental datang bertubi-tubi. Cemoohan, nada-nada sumbang, bahkan serangan yang tidak hanya menyasar pribadi namun juga menyentuh keluarga, kerap ia terima. Ada yang meragukan, ada yang mencibir latar belakangnya.
Namun di situlah letak kebesaran hati seorang Baron. Ia tidak pernah membalas dengan amarah. Ia menjawabnya dengan senyum, dengan ketenangan, dengan tetap bersikap sopan dan ramah bahkan kepada mereka yang menjatuhkannya. Ia yakin, politik harus membawa kesejukan, bukan kebencian.
Kekuatan itu lahir dari rumah.Dari keluarga yang kokoh, dari sahabat dan kawan-kawan yang setia dalam suka dan duka.Bagi mereka, Roni adalah sosok yang selalu mendahulukan kepentingan keluarga dan sahabat di atas dirinya sendiri. Dan kini, inilah waktunya keluarga dan sahabat membalas ketulusan itu dengan berdiri tegak di belakangnya.
Berkat kuasa Allah SWT, kerja keras, doa keluarga, sahabat, dan dukungan penuh masyarakat IV Koto Hilie, Roni Eka Putra berhasil meraih suara terbanyak, unggul signifikan dari kandidat lainnya.
Bahkan, dari 59 nagari yang menggelar Pilwana serentak di Pesisir Selatan saat itu, suara yang diraih Baron dikabarkan menjadi salah satu yang tertinggi.
Kemenangan itu kembali ia sambut dengan sujud syukur. Tidak ada euforia berlebihan, yang ada hanya ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Allah, kepada keluarga, dunsanak, sahabat, dan seluruh masyarakat IV Koto Hilie.
Kemenangan ini adalah buah dari kesabaran, kerendahan hati, dan keteguhan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Setelah dilantik, Baron tidak banyak bicara. Ia langsung bekerja dan membuktikan.Stigma bahwa sosok dengan latar belakang preman tidak bisa memimpin, ia patahkan dengan kerja nyata.
Belum genap setahun menjabat, perubahan di IV Koto Hilie mulai nampak dan terasa.Pembangunan infrastruktur nagari mulai berjalan dan terlihat hasilnya, dari pembenahan jalan lingkungan hingga fasilitas umum.
Semangat gotong royong yang sempat meredup, kembali ia hidupkan. Warga kembali turun bersama, membangun nagari dengan rasa memiliki.
Pelayanan nagari dibuat lebih terbuka, cepat, dan ramah.Kantor wali nagari menjadi rumah kedua bagi warga.Pemberdayaan pemuda dan UMKM digerakkan dengan ide-ide kreatif dan inovatif, menjadikan nagari lebih aktif dan berdaya saing.
Kini, Baron tidak hanya dikenal di Batang Kapas, namun mulai menjadi perbincangan di seantero Pesisir Selatan sebagai salah satu wali nagari yang kreatif, inovatif, aktif, responsif, dan solutif.
Kisah Roni Eka Putra alias Baron adalah pelajaran berharga bahwa kepemimpinan tidak diukur dari seberapa tinggi gelar di belakang nama,tetapi seberapa dalam ketulusan di dalam hati untuk melayani.
Ia mengajarkan kita bahwa dihina bukan alasan untuk berhenti, dicela bukan alasan untuk membenci.Jawablah dengan kerja, jawablah dengan karya.
Menjelang Pilwana Serentak 2026 yang akan digelar pada 21 Oktober mendatang di 93 nagari se-Kabupaten Pesisir Selatan, kisah ini menjadi oase dan motivasi.
Bahwa setiap anak nagari punya kesempatan yang sama. Bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk masa depan. Selama ada niat baik, hati yang bersih, dekat dengan masyarakat, dan bersandar kepada Allah SWT, jalan itu akan terbuka.
Baraja ka nan manang, mencontoh ka nan sudah. Mari belajar dari Baron, bahwa untuk menjadi pemenang, kita harus lebih dulu memenangkan hati masyarakat dengan kerendahan hati.(*)
![]()






