Harga Gambir Anjlok, Warga Galugua Andalkan Mendulang Emas Tradisional Guna Sambung Hidup

Kapur IX, Sumbar24jam.com – Jauh di pedalaman Kabupaten Limapuluh Kota, tepatnya di Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, sebuah tradisi tua merawat bumi sambil mencari rezeki masih terjaga erat. Di tengah gempuran modernisasi dan maraknya aktivitas penambangan ilegal menggunakan mesin berat di beberapa kawasan Sumatera Barat, sebagian besar masyarakat di nagari ini justru tetap setia bertahan dengan aktivitas mendulang emas secara tradisional di sepanjang aliran sungai setempat.

Aktivitas mendulang emas ini umumnya dilakoni oleh warga sebagai usaha sampingan yang sangat menjanjikan, terutama di kala harga komoditas perkebunan utama daerah tersebut, seperti gambir dan karet, sedang anjlok dan mengalami fluktuasi lesu di pasaran.

Setiap hari, baik pria maupun wanita paruh baya tampak telaten berendam di jernihnya aliran sungai dengan berbekal sebuah janiang atau kuali kayu berbentuk kerucut landai sebagai alat pemisah butiran emas dari pasir sungai.

Salah seorang warga sekitar, Wati, membeberkan bahwa dari hasil mendulang secara tradisional ini, ia mampu mengantongi pendapatan hingga Rp2.500.000 per minggu. Penghasilan tersebut dinilai sangat krusial untuk menopang ketahanan ekonomi keluarga, memenuhi kebutuhan dapur, serta membiayai uang belanja sekolah anak-anaknya.

“Hasil dari mendulang ini sangat membantu dan cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga, mengingat harga jual komoditas gambir saat ini sedang tidak bagus,” tutur Wati lirih.

Secara teknis, proses pendulangan diawali dengan menyendok pasir dan kerikil sungai yang mengandung material logam ke dalam kuali kayu. Dengan teknik memutar kuali secara konstan di permukaan air, material pasir yang lebih ringan perlahan terbuang ke luar, menyisakan endapan pasir hitam pekat berkilau di dasar kayu yang menjadi indikator kuat adanya butiran emas halus atau emas urai.

“Mendulang emas secara tradisional ini sudah turun-temurun dari nenek moyang kami di Galugua. Hasilnya memang tidak menentu, kadang dalam sehari bisa dapat beberapa miligram, kadang juga nihil.

Namun, cara ini sangat aman bagi alam karena kami tidak merusak struktur sungai, tidak memakai alat berat, dan sama sekali tidak menggunakan zat kimia berbahaya seperti merkuri,” ungkap seorang pendulang setempat yang enggan disebutkan namanya, Senin (24/8/2026).

Emas urai hasil dulangan warga ini nantinya dikumpulkan sedikit demi sedikit di dalam botol kecil berisi air. Jika dirasa sudah cukup, emas tersebut akan dijual kepada pengepul lokal atau langsung dibawa ke pasar kecamatan di Muaro Paiti dengan nilai jual yang mengikuti fluktuasi harga emas pasar terkini.

Aktivitas ini tidak sekadar menjadi urat nadi penggerak ekonomi mikro di tingkat nagari, tetapi juga memancarkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Pemerintah Nagari Galugua pun secara konsisten terus mengimbau masyarakat agar mempertahankan metode tradisional yang ramah lingkungan ini sebagai alternatif cerdas di tengah anjloknya harga pasar gambir.

Warga masyarakat setempat secara kolektif menolak keras pemakaian alat berat (ekskavator) yang berpotensi merusak ekosistem sungai dan merugikan kehidupan generasi mendatang di hulu Kapur IX.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed