sumbar24jam.com|Pessel – Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, Pesisir Selatan Sumatera Barat tepatnya di Nagari Kampung Tengah, mulai menerapkan pendekatan baru untuk meningkatkan produksi padi di tengah kebutuhan pangan yang terus bertambah.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menargetkan produktivitas sawah di Pesisir Selatan, Sumatera Barat yang selama ini berkisar 3 hingga 5 ton per hektare dapat meningkat menjadi 8 hingga 10 ton per hektare melalui penerapan metode Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Target tersebut menjadi bagian dari strategi Kementerian Pertanian dalam memperkuat swasembada pangan nasional. Di Sumatra Barat, metode PMAAS akan diterapkan secara bertahap pada lahan seluas sekitar 7.000 hektare dengan pendampingan penyuluh pertanian di berbagai kabupaten dan kota.
Kepala Badan Perakitan Modernisasi Pertanian (BRMP) provinsi Sumatera Barat, Dr. Salwati, S.P.,M.Si, mengatakan berdasarkan hasil uji penerapan di sejumlah daerah, metode PM-AAS memiliki potensi menghasilkan produksi hingga 10 ton gabah per hektare apabila diterapkan sesuai standar budidaya.
”Kalau produksi rata-rata di Sumatera Barat saat ini masih sekitar 3 sampai 5 ton per hektare, harapannya dengan metode ini paling tidak bisa meningkat menjadi di atas 8 sampai 10 ton per hektare,” ujarnya di Nagari Kampung Tengah Tapan, Jum’at (31/7/2026)
Ia menyebutkan, menanam padi di Kampung Tengah Tapan ini merupakan sejalan dengan program kementerian pertanian yaitu menanam serentak 50.000 Hektar di seluruh Indonesia.
Untuk di Provinsi Sumatera Barat, di lakukan pada kabupaten pesisir Selatan yaitu di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, tepatnya di Kelompok Tani Talang Jua Nagari Kampung Tengah Tapan.
”Karena Pesisir Selatan merupakan lahan persawahan dan produksi padi terbanyak yang ada di Provinsi Sumatera Barat,” ujarnya.
Lanjutnya, tujuannya dari kegiatan ini sebagai penyemangat para petani dan meningkatkan produktivitas.
Menurut Salwati, peningkatan produktivitas menjadi strategi yang lebih realistis dibanding hanya mengandalkan pembukaan lahan sawah baru. Dengan luas lahan yang relatif tetap, hasil panen masih dapat ditingkatkan melalui perubahan pola budidaya dan penerapan teknologi yang lebih efektif.
Salah satu perubahan yang diterapkan dalam PM-AAS adalah penggunaan pola tanam yang lebih rapat dibanding metode konvensional. Selain itu, kebutuhan benih juga meningkat agar populasi tanaman per hektare lebih banyak sehingga mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
Meski demikian, penerapannya tetap memerlukan pendampingan teknis agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.
Bagi Sumatera Barat, peningkatan produktivitas menjadi langkah penting di tengah perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi diperkirakan akan mendorong kebutuhan pangan yang lebih besar.
Karena itu, peningkatan hasil panen dinilai menjadi salah satu cara memperkuat produksi beras daerah tanpa harus terus membuka lahan baru.
Ahmad Subhan menegaskan keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada proses pendampingan di lapangan. Seluruh penerapan PM-AAS akan dikawal oleh penyuluh pertanian agar petani dapat memahami setiap tahapan budidaya sesuai rekomendasi Kementerian Pertanian.
”Harapan kita tujuan dari pola tanam ini adalah meningkatkan produksi. Dengan produksi yang maksimal, ketahanan pangan akan semakin kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Camat Ranah Ampek Hulu (Rahul) Tapan Agnes Dheno Arnas, S.STP.,MM, menyampaikan terimakasih kepada Kementrian Pertanian melalui BRMP Sumatera Barat, karena telah memilih Kecamatan Rahul untuk dijadikan lokasi penanaman serentak dengan metode PM-AAS ini.
Tapan saat ini, khususnya Rahul memiliki luas persawahan 739 hektar. Dengan adanya metode PM-AAS ini bisa meningkatkan hasil panen yang meningkat.
Selain itu, dengan luas lahan yang cukup luas tersebut perlunya bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) dan juga kepala bandar irigasinya.
”Lokasi persawahan kita ini, untuk air sangat sulit didapatkan dan Alsintan dari Brigade Pangan Pangan belum bisa masuk dikarenakan tidak ada akses jalan,” ungkap Dheno.
Ia juga menyampaikan aspirasi kelompok tani yang ada di Rahul, khususnya di Kampung Tengah Tapan terkait kekurangan alsintan dan irigasi air di area persawahan.
”Jadi, kami harap dari kementerian pertanian melalui dinas agar bisa memenuhi kekurangan dan kebutuhan kelompok tani kami,” imbuhnya.(*)
Tanam Padi Serempak di Kecamatan Rahul Tapan, BRMP Sumatera Barat Dorong PM-AAS Percepat Swasembada Pangan












