Krisis Biosolar di Kota Payakumbuh Makin Kritis, Antrean Kendaraan Mengular Hingga Satu Kilometer

PAYAKUMBUH, Sumbar24jam.com – Krisis pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis biosolar di Kota Payakumbuh kian berlarut-larut dan berada pada titik yang mengkhawatirkan. Imbas menipisnya stok bensin, antrean panjang kendaraan berat dan angkutan umum terpantau mengular hingga lebih dari satu kilometer.

Kondisi antrian ini salah satunya terlihat dibeberapa tempat di pengisian, terlihat jelas di SPBU Koto Nan Ampek, Jalan Soekarno-Hatta No. 95, Kelurahan Koto Nan IV, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Deretan kendaraan yang mengantre bahkan meluber hingga memakan bahu jalan arteri strategis tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, ratusan truk logistik, bus antarprovinsi,truk angkutan barang, hingga kendaraan pikap tampak parkir berderet berjam-jam demi menunggu giliran pengisian di dispenser solar. Penumpukan kendaraan ini tidak hanya memicu kemacetan lalu lintas yang parah di jalur utama Kota Payakumbuh, tetapi juga melumpuhkan efisiensi waktu perjalanan operasional angkutan barang dan penumpang.

Banyak pengemudi mengaku terpaksa mengorbankan waktu istirahat mereka, bahkan hingga harus menginap semalaman di jalanan. Langkah ekstrem itu terpaksa diambil hanya demi mendapatkan jatah solar yang kuota pembeliannya kini dibatasi ketat oleh pihak pengelola SPBU.

“Mencari solar sekarang ibarat berburu emas, sangat sulit. Kami sudah mendatangi tiga SPBU dari beberapa tempat, tetapi semuanya kosong. Sekalinya ada yang buka seperti di Koto Nan Ampek ini, antreannya sudah panjang dan memakan waktu berjam-jam. Akibatnya, jadwal pengiriman barang ke pelanggan menjadi berantakan,” keluh salah seorang sopir truk logistik lintas wilayah yang enggan disebutkan namanya kepada Sumbar24jam.com.

Operasional dan Pendapatan Sopir Terpukul
Merespons situasi ini, Asosiasi Organisasi Angkutan Darat (Organda) mengungkapkan bahwa dampak dari kelangkaan solar subsidi sudah sangat masif memukul urat nadi perekonomian daerah.

Penurunan frekuensi perjalanan armada angkutan, akibat terlalu lama terjebak di dalam antrean SPBU menyebabkan omzet pendapatan pengusaha angkutan dan para sopir merosot tajam hingga 50 persen.

Lebih buruk lagi, aspek keselamatan berkendara kini ikut terancam. Kelelahan fisik akibat para pengemudi yang terpaksa terjaga semalaman di dalam antrean jalan raya meningkatkan risiko kecelakaan kerja secara drastis saat mereka kembali melaju di rute lintas sumatra.

Di sisi lain, pihak pengelola SPBU menyebutkan bahwa situasi dilematis ini dipicu oleh keterlambatan pasokan logistik distribusi serta adanya pengurangan kuota berkala di tingkat hilir. Hal ini dinilai tidak sebanding dengan tingginya lonjakan aktivitas angkutan komersial di pertengahan tahun 2026.

Guna mengantisipasi habisnya stok dalam waktu sekejap, manajemen SPBU terpaksa menerapkan pembatasan nominal pengisian maksimal untuk setiap kendaraan yang masuk.

Melihat kondisi yang kian mencekik ini, masyarakat bersama para pelaku usaha sektor logistik mendesak pemerintah, BPH Migas, dan Pertamina untuk segera mengambil langkah intervensi taktis di lapangan. Diperlukan normalisasi distribusi secepatnya serta pengawasan ketat menggunakan sistem digital tepat sasaran.

Langkah ini krusial agar pasokan solar bersubsidi tidak bocor ke pihak industri besar, sehingga antrean panjang yang menyengsarakan para sopir di Kota Payakumbuh bisa segera terurai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *