Agam (Palupuah), Sumbar24jam.com – Sudah 78 tahun Indonesia merdeka, tapi masih ada warga miskin menempati rumah yang kondisinya cukup memperihatinkan di Jorong Pasie Laweh Kecamatan Palupuah Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Apakah nasib si miskin terabaikan? Program Bantuan Rumah Tak Layak Huni dari pemerintah terus bergulir dibeberapa daerah, hingga tingkat Kecamatan maupun tingkat Nagari, akan tetapi rumah berukuran 3×4 milik Germon Davit bersama istri tercinta Serta anaknya yang kondisinya nyaris hanyut terdampak BENCANA banjir bandang dan Galodo, luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten Agam,”ungkap Arul salah seorang Aktivitis Kemanusiaan dan pemerhati sosial serta kemiskinan Sumatera Barat, Minggu (26/ April /2025).
Bangunan rumah milik Germon David yang sudah dalam kondisi lapuk, serta rusak, akibat genangan banjir bandang mengenangi rumahnya tapi terkesan luput dari perhatian pemerintah Kabupaten Agam serta Nagari Pasie Laweh. Sementara rumah-rumah milik masyarakat lainnya dapat bantuan bedah rumah dari Pemkab Agam, adil kah itu??Tanya Davit.
Kondisi rumah sangat memperihatinkan sudah berlangsung 3 tahun, tapi sejauh ini tidak juga mendapat perhatian dari pemerintah, itu yang kita pertanyakan, terang Davit, seraya ia berharap agar Pemkab Agam berkenan memperbaiki rumah miliknya.

Germon Davit (42) Tahun bersama istrinya, Fitriyanti (46) Tahun warga Palupuah,jorong Pasie Laweh, Kabupaten Agam yang ditemui wartawan baru baru ini di kediamannya tampak memperhatinkan serta pilu akan nasib keluarga miskin yang terabaikan. Berdasarkan informasi dari media online www.IntelKriminal.com menerbitkan potret kemiskinan Nagari Palupuah Jorong Pasie Laweh, Aktivis Kemanusiaan Sumbar Arul menelusuri Lebih dalam potret kehidupan yang rentan ekonomi tersebut.
Kondisi bangunan rumah yang terbuat dari bahan material kayu, itu terlihat di berbagai sudut dalam kondisi lapuk, bahkan nyaris terlepas sehingga dikuatirkan hanya menunggu waktu relatif singkat terancam akan tumbang walau secara pribadi Davit perbaiki seadaanya, ujarnya.
Suka atau tidak suka, Davit yang sehari-harinya bekerja serabutan bersama istri sebagai makan upah bila ada orang yang ingin minta Bantu Davit bersama istri tetap bertahan hidup di rumah ukuran 4 x 3 meter, karena mereka tidak memiliki pilihan lain.
“Jangankan untuk merehab rumah, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja susah, karena saya tidak memiliki pekerjaan tetap,” ucap Germon Davit dengan nada sedih.
Mirisnya lagi aktivis Kemanusiaan Sumbar ini merasa pilu dengan satu keluarga ini karena sumber air minum berasal dari air hujan yang ditampung dengan satu drum besi dan ember yang turun dari atap rumah, Mandipun kami harus disungai pak serta BAB pun juga terpaksa disungai,” Ungkapnya.
Davit terus berjuang dengan bermodalkan tenaga untuk mengais rezeki dengan mencari upahan seperti menyodok Pasir, dan yang lainnya.
Karena kondisi bangunan rumah sudah tak layak maka terpaksa disokong dengan material kayu. “Terkadang aku takut saat berada di dalam rumah pada malam hari, apalagi turun hujan disertai dengan angin kencang, jangan-jangan bangunan rumah ini tumbang,” ucapnya.
Ia pun berharap adanya Bantuan rumah yang diberikan bupati Agam Benni Warlis buat kelurga saya khusunya, bagi Pemkab Agam apakah data kami tidak diloloskan untuk memberi bantuan bedah rumah, sehingga keluarga kecilnya bisa nyaman berteduh di dalam rumahnya.
Mengenai bantuan PKH, saya sudah pernah mengusulkannya ke Kepala Jorong (Kepala Dusun). Kata beliau, saya harus bersabar dulu karena nama sudah dimasukkan, namun keputusan akhir ada di tangan pemerintah pusat begitu penjelasan beliau.
Jorongpun membenarkan data Germon Davit bersama keluarga sudah kami terima serta data lengkappun sudah di Kantor Nagari kami pak, jawabnya dengan singkat di telpon whatShaap.

Sudah tiga tahun kami tinggal di Palupuh sebagai keluarga kurang mampu. Jujur saja, untuk makan sehari-hari pun kami sering harus berutang beras dulu ke kedai. Jika nanti ada muatan pasir, barulah utang tersebut dibayar. Kadang ada beras tapi lauk pauk sulit didapat.
Saat harga cabai mahal, untungnya kami menanam dua batang cabai rawit di samping rumah sebagai teman makan pucuk ubi rebus. Jika diceritakan, hidup ini memang terasa sedih. Hari ini selesai, besok entah apa lagi yang akan dimakan. Namun, selagi hidup rezeki selalu ada; karena banyak teman, ada saja yang menolong.
Kalau teman datang, saya masih bisa menyuguhkan kopi. Intinya, saya tidak punya tabungan sama sekali, berapa yang didapat langsung habis. Tapi insyaallah kami tidak kelaparan karena istri pandai bergaul; dia sering diajak orang menyiang sawah, dan upahnya cukup untuk belanja ke pasar dan biaya sekolah anak.”jawab nya.
“Istri saya juga bukan berasal dari keluarga kaya, Pak. Keluarganya di Koto Baru pun hidup susah, bahkan ada yang menumpang tinggal di tanah orang, ” Jawabnya.
Sudah lebih dari tiga tahun kami tinggal di pondok ini sampai sekarang. Dulu di Solok pun hidup kami bergantung pada pergaulan; karena banyak kawan, rezeki selalu ada. Kadang membantu memanen padi di sawah orang, berdagang mainan anak di tempat wisata, atau pulang ke kampung mengambil pasir jika sedang banyak proyek pembangunan. Kalau ada sedikit uang, saya kembali lagi ke Solok. Pokoknya, saya mau bekerja apa saja, Pak, asalkan halal dan bukan pekerjaan buruk.
Saya tipe orang yang tidak suka terikat atau diperintah orang lain; saya ingin mandiri. Contohnya mengambil pasir ini, pekerjaannya bebas tanpa ada yang memerintah. Biarpun berat, yang penting saya merdeka. Kalau lelah saya berhenti, kalau ingin bekerja ya saya lanjut. Istilahnya, jika tidak bergerak maka tidak makan. Hidup saya saat ini baru sebatas bisa untuk makan saja, Pak.” Ungkapnya dengan berlinang air mata bersama istri tercinta.
“Tanyakan saja pada rekan bapak, setiap dia datang ke rumah selalu saya buatkan kopi. Stok kopi selalu saya sediakan di rumah untuk menjamu teman. Kalau rokok, saya beli di kedai; jika tidak sanggup beli sebungkus, beli sebatang pun jadi untuk dinikmati bersama kawan, yang penting ada.” Ujarnya lagi.
“Ini foto tiga bulan yang lalu, Pak, saat membuat persemaian sawah. Ada orang yang mempercayakan sawahnya untuk kami garap sebanyak 10 sukak benih (satuan takaran lokal). Di situlah saya mulai menyemai benihnya.”
“Kalau ini pekerjaan saya saat truk pasir datang. Saya bekerja sebagai buruh muat dengan upah Rp8.000 per kubik. Satu truk isinya 8 kubik, ditambah uang tips sekitar Rp20.000 sampai Rp30.000 dari sopir. Jika pengerjaannya berdua, maka upahnya dibagi dua.”
“Ini pekerjaan saya, Pak. Biar malam sekalipun, jika ada kesempatan, tetap saya kerjakan. Yang penting ada uang masuk, gas terus!”
Berharap kepada bapak Bupati Agam Benny Warlis bisa membantu keluarga kami serta melakukan sidak langsung ke gubuk kami pak, biar tidak Ada yang ditutup tutupi pak, di Nagari kami ini pak, Ujarnya dipenutup.
(arul)
![]()
