Payakumbuh Sumbar24jam.com – Suasana duka mendalam tengah menyelimuti dunia olahraga Sumatera Barat. Salah satu talenta basket terbaik dan paling ikonik yang pernah dimiliki ranah Minang, Usmai Zainal, atau yang lebih akrab dikenal di lapangan dengan nama Nal “Colak,” dikabarkan telah tutup usia.
Kepergian sang legenda meninggalkan kesedihan mendalam, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh insan basket di Kota Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, hingga tingkat provinsi Sumatera Barat. Bagi mereka, Nal “Colak” bukan sekadar mantan pemain, melainkan sebuah simbol dedikasi, keindahan bermain, dan panutan sejati.
Sang Maestro Kidal dan “Euro Step” Ranah Minang
Di tengah langkanya pemain bertangan kidal dalam kancah bola basket regional, Nal “Colak” muncul sebagai yang terbaik di generasinya. Berposisi fasih sebagai small forward atau shooting guard, gaya permainannya sering kali disandingkan dengan legenda NBA asal Argentina, Manu Ginobili.
Uniknya, jauh sebelum Ginobili mempopulerkan gerakan langkah lay-up mematikan bernama “euro step” di panggung NBA pada era 2000-an, Nal sudah lebih dulu memperagakan liukan indah tersebut di berbagai lapangan outdoor dan indoor di Sumatera Barat.
Ia dikenal memiliki signature move (gerakan khas) yang selalu memukau penonton: melakukan penetrasi dengan dua langkah panjang dari luar garis key hole, melayang di udara menghindari hadangan lawan, lalu mengangkat bola tinggi-tinggi dengan tangan kirinya. Dengan sentuhan magis, bola diplintir di udara dan dihantar masuk ke dalam ring melalui teknik finger roll yang sangat halus. Sebuah tarian visual yang selalu dirindukan oleh siapa saja yang pernah menyaksikannya bertanding.
Kenangan Indah Kejurnas Junior 1994
Nal “Colak” tidak hanya melegenda di daerah asalnya, Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Kemampuannya yang luar biasa membuat ia terpilih untuk memperkuat Tim Bola Basket Sumatera Barat dalam ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior di Bandung pada tahun 1994.
Di luar lapangan, Nal dikenal sebagai pribadi yang sangat hangat dan kocak. Mantan rekan setimnya mengenang momen-momen kebersamaan saat Pemusatan Latihan (TC) di Wisma Puriwedari, Jalan Jenderal Soedirman, Padang. Nal adalah sosok yang selalu mampu menghidupkan suasana dengan “garah” (candaan) khasnya yang renyah, mencairkan ketegangan di tengah beratnya porsi latihan fisik.
Kehilangan Besar Bagi Generasi Muda
Bagi insan basket muda di Payakumbuh, Nal “Colak” adalah referensi hidup bagaimana olahraga ini harus dimainkan—penuh dengan keindahan teknik, kecerdasan, dan sportivitas. Ia adalah mentor tanpa pamrih yang menjadi kiblat bagi anak-anak muda yang ingin menekuni dunia bola basket.
“Innalillaahi wainnailaihi raaji’un.”
Selamat jalan, Usmai Zainal. Lapangan basket Sumatera Barat mungkin tidak akan lagi melihat liukan tangan kiri yang magis itu secara langsung, namun warisan inspirasi, tarian indah di bawah ring, dan tawa renyahmu akan selalu abadi dalam ingatan sejarah bola basket Sumatera Barat.
Selamat jalan, sang Legenda!
![]()






