Payakumbuh,Sumbar24jam.com — Tanggal 3 Agustus 1957 menjadi guratan sejarah yang tak akan pernah pupus dalam ingatan keluarga besar begawan ekonomi Indonesia, Prof. Soemitro Djojohadikusumo. Pada hari itu, sebuah keluarga kecil tiba di pesisir Sumatera Barat dalam balutan kabut ketidakpastian politik yang mencekam.
Mereka bukan wisatawan yang datang pelesir menikmati keelokan panorama Ranah Minang, bukan pula perantau yang mengadu nasib. Mereka adalah pelarian politik yang membawa kecemasan, ketakutan, sekaligus harapan besar untuk menyambung hidup.
Di antara rombongan yang menapakkan kaki pertama kali di bumi Minangkabau itu, terdapat dua anak perempuan yang masih belia, Bianti Djojohadikusumo dan Maryani Djojohadikusumo. Bersama mereka, ikut pula sang adik kecil yang baru menginjak usia lima tahun, anak laki-laki itu bernama Prabowo Subianto. Didampingi sang ibu, Dora Marie Sigar, mereka melangkah tanpa tahu di mana keberadaan sang ayah, Prof. Soemitro.
Pelarian di Tengah Prahara Politik 1957
Tahun 1957 merupakan salah satu fragmen paling bergejolak dalam dinamika politik nasional. Malam sebelum pelarian, Prof. Soemitro Djojohadikusumo menerima peringatan rahasia dari kalangan petinggi TNI Angkatan Darat bahwa dirinya akan ditangkap esok pagi.
Menyadari ancaman nyata tersebut, Prof. Soemitro seketika meninggalkan Jakarta secara diam-diam menuju Merak. Bahkan, keluarganya sendiri tidak diberi tahu ke mana tujuan akhir sang ayah demi menjaga keselamatan.
Beberapa hari kemudian, barulah sang istri menerima pesan singkat bernada sandi:
Segera bawa anak-anak menuju Ranah Minang. Perjalanan darat dan laut yang melelahkan itulah yang akhirnya menuntun langkah keluarga Djojohadikusumo tiba di Sumatera Barat pada Agustus 1957.
Selama berbulan-bulan di Sumatera Barat, hidup mereka tak pernah tenang. Situasi menuntut mereka untuk terus bergerak dan berpindah-pindah, mulai dari Padang, Bukittinggi, hingga Batusangkar.

Di tengah kepungan intelijen dan masa depan yang buram, mereka justru menemukan sesuatu yang kelak mengubah cara pandang mereka tentang kemanusiaan: ketulusan dan keberanian orang-orang Minang.
Pengorbanan nyata orang-orang baik dari Ranah Minang di tengah risiko politik yang teramat tinggi, sejumlah tokoh masyarakat Minangkabau justru membuka pintu rumah dan menyembunyikan keluarga Prof. Soemitro. Dua nama yang paling terpatri erat di sanubari keluarga Djojohadikusumo adalah Ramli Hadi dan Martunus Hadi.
Membantu keluarga seorang buronan politik pada masa itu adalah keputusan yang bertaruh nyawa dan jabatan. Benar saja, risiko itu akhirnya datang menghampiri. Akibat perlindungan yang mereka berikan, Ramli Hadi akhirnya ditangkap oleh aparat keamanan, sementara Martunus Hadi terpaksa mengasingkan diri dan melarikan diri ke Malaysia. Pengorbanan luar biasa ini menjadi bukti nyata bahwa di atas politik, ada nilai kemanusiaan yang jauh lebih luhur.
Pada November 1957, setelah berbulan-bulan dirundung cemas, Prof. Soemitro akhirnya berhasil bertemu kembali dengan istri dan anak-anaknya di Sumatera Barat. Namun, pelarian mereka belum usai. Tak lama setelah reuni mengharukan itu, mereka terpaksa menyelundup keluar dari Indonesia menaiki kapal kargo menuju Singapura, sebelum akhirnya memulai hidup baru sebagai pengungsi di Malaysia, Swiss, hingga London, Inggris. Total, keluarga ini menghabiskan waktu 11 tahun di pengasingan sebelum akhirnya diundang pulang oleh Presiden Soeharto pada tahun 1968.
Isak tangis dalam napak tilas setelah 70 tahun, waktu boleh berlalu hampir tujuh dekade, namun utang budi dan rasa cinta terhadap Sumatera Barat tidak pernah luntur. Pada tanggal 3 hingga 5 Juni 2026 yang lalu, Bianti Djojohadikusumo dan Maryani Djojohadikusumo kembali menginjakkan kaki di Ranah Minang dalam sebuah agenda napak tilas emosional.
Puncaknya terjadi saat keduanya berbicara di hadapan civitas akademika Universitas Andalas, Padang. Di mimbar akademis itu, ingatan masa kecil mereka kembali berputar. Air mata kedua putri Prof. Soemitro ini tak terbendung lagi saat menceritakan bagaimana masyarakat Minangkabau menjadi tameng pelindung bagi masa kecil mereka dan sang adik, Prabowo Subianto.
Sambil menyeka air mata yang menitik di pipi, mereka mengungkapkan kalimat mendalam yang menggetarkan seisi ruangan: “Kami tidak pernah dan tidak akan pernah melupakan Minangkabau.”
Bagi keluarga Djojohadikusumo, kisah ini bukan sekadar catatan usang di buku sejarah politik Indonesia. Kisah ini adalah tentang keberanian yang tak meminta pamrih, persahabatan yang melintasi batas suku, dan tentang bumi Minangkabau yang pernah menjadi rumah teduh di kala badai kehidupan datang menerpa.
Penulis : Prof.,Dr.Henmaidi S,.T,M
![]()






