50 KOTA SARILAMAK, Sumbar24jam.com – Kisah pilu menimpa Madinah, bayi perempuan berumur 7 bulan asal Jorong Ketinggian, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Di usianya yang masih sangat belia, anak kuli bangunan ini harus bertaruh nyawa melawan komplikasi penyakit berat: jantung bocor bawaan, hipotiroid, serta dugaan kuat (suspect) Leukimia Akut atau kanker darah, Minggu (21/6/2026).
Saat sang buah hati membutuhkan penanganan medis darurat secara terus-menerus, sang ibu justru harus menelan pil pahit. Upayanya mengetuk pintu instansi pemerintah daerah guna meminta bantuan pembiayaan berujung pada penolakan.
“Saya datangi Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Jawaban dari petugas informasi sama, mereka bilang tidak ada anggaran untuk hal itu.
Saat mencoba ke BAZNAS, berkas permohonan kami malah di-pending hingga tahun depan,” ujar ibu Madinah dengan nada tegar yang menyembunyikan keputusasaan.
Kronologi Medis yang Kian Memburuk
Perjuangan Madinah dimulai sejak ia lahir pada 7 November 2025 dengan kondisi jantung bocor bawaan. Sejak Februari 2026, ia sudah menjadi pasien rujukan di RSUP dr. M. Djamil Padang.
Kondisinya kian kritis pada 27 Maret 2026 saat mengalami gagal napas dan dilarikan ke ICU/PICU RS Unand. Di sana, dokter menemukan kadar Hemoglobin (Hb) Madinah anjlok hingga ke angka ekstrem 1,2 dan membutuhkan transfusi 6 kantong darah.
Di tengah masa kritis itu, kepesertaan BPJS gratis dari pemerintah miliknya mendadak dinonaktifkan, sehingga keluarga terpaksa mengalihkan kepesertaan ke BPJS Mandiri agar perawatan bisa berlanjut.
Bencana berikutnya datang pada pertengahan April 2026 di RSUP dr. M. Djamil Padang. Hasil tes sumsum tulang belakang (Bone Marrow Puncture/BMP) mendeteksi adanya sel kanker sebesar 3%. Pada pemeriksaan BMP kedua di bulan Mei, sel kanker tersebut melonjak drastis hingga 17%. Dokter mendiagnosis Madinah mengidap Bisitopenia arah Leukimia Akut (SUSP ALL/AML).
Tabungan Habis, Berutang demi Ongkos Pulang hingga Juni 2026, Madinah harus keluar masuk ruang intensif (PICU) RS Adnan WD Payakumbuh dan RSUP dr. M. Djamil Padang karena kondisi Hb dan trombositnya yang kerap terjun bebas. Jika terlambat mendapat darah, Madinah berisiko tinggi mengalami pendarahan otak karena jantungnya kesulitan memompa darah ke kepala.
Kondisi ini membuat ekonomi keluarga benar-benar lumpuh. Sang ayah yang bekerja sebagai kuli bangunan kerap kehilangan penghasilan karena harus mengantar Madinah berobat ke Padang selama berhari-hari.
“Tabungan sudah habis, barang-barang yang bisa dijual pun sudah habis. Malah kalau pulang dari RS M. Djamil Padang, kami sering bayar ongkos travelnya sistem COD (bayar di rumah) setelah pinjam uang tetangga,” ungkapnya.
Keluarga kecil yang masuk dalam kategori miskin ekstrem (Desil 4) ini anehnya tidak pernah tersentuh bantuan sosial pemerintah seperti PKH atau BPNT.
Selama ini, mereka hanya bertahan berkat bantuan solidaritas eksternal, di antaranya santunan Rp2 juta dari Dandim 0306 dan Rp2 juta dari Polres 50 Kota sebelum Lebaran Haji lalu, yang seluruhnya habis untuk menebus kantong darah dan trombosit yang tidak dicover BPJS.
Menanti Keajaiban Rp2 Miliar dan Uluran tangan Donatur serta berdasarkan instruksi dokter spesialis hematologi, satu-satunya jalan keluar medis bagi Madinah saat ini adalah menjalani transfusi darah rutin seumur hidup atau melakukan tindakan transplantasi sumsum tulang belakang. Biaya operasi besar tersebut diperkirakan menembus angka Rp2 Miliar.
Pihak keluarga mengaku sudah kehabisan cara. Upaya mengirim pesan dan menandai akun media sosial para tokoh publik hingga anggota DPR-RI pun hingga kini belum membuahkan respons. Di rumah kontrakan mereka, sang ibu kini hanya bisa memeluk erat Madinah yang kerap rewel, batuk, sesak napas, dan mendadak pucat, sembari berharap ada dermawan atau mukjizat yang sudi menyambung napas putri kecilnya.
Bagi para pembaca, dermawan, maupun donatur yang tergerak hatinya untuk berbagi dan membantu biaya pengobatan serta operasional perawatan medis bayi Madinah, bantuan dapat disalurkan langsung melalui rekening resmi pihak keluarga:
Nama Bank: BANK BCA
Nomor Rekening: 6145336639 A/N Nila Sri Rahayu
GOPAY: 083125478335
Konfirmasi Bantuan (WhatsApp): 0821-6971-1142 (Arul – Relawan Kemanusiaan Luak 50)
Keluarga besar Madinah mengucapkan ribuan terima kasih atas setiap doa dan uluran tangan yang diberikan. Semoga kebaikan bapak, ibu, dan seluruh donatur dicatat sebagai amal ibadah yang dilipatgandakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
![]()
