Limapuluh Kota,Sumbar24jam.com – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Nagari Galugur, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, tidak hanya memicu kerusakan ekologi secara masif. Keberadaan kamp penambang liar tersebut kini memicu gejolak sosial akut setelah mencuatnya skandal dugaan perselingkuhan berlapis antara pekerja tambang dengan dua orang istri warga setempat. Isu miring ini langsung menjadi buah bibir yang memanaskan situasi di tengah masyarakat nagari sejak Jumat (5/6/2026).
Informasi terbaru di lapangan mengoreksi kabar awal yang menyebut adanya intimidasi sepihak oleh oknum koordinator lapangan (Korlap) berinisial HH. Fakta di lapangan justru mengarah pada skandal asmara terlarang yang melibatkan penyalahgunaan kebaikan warga lokal yang terjadi beberapa hari belakang.
Kronologi berawal dari tumpangan rumah hingga Kamp di Tepi Sungai Menurut keterangan korban berinisial DA, peristiwa ini bermula saat pelaku HH selaku korlap tambang tiba di Nagari Galugur bersama rekannya. Karena saat itu sedang ada razia dan pelaku kesulitan mendapatkan tempat kontrakan, DA yang menganggap HH sebagai orang baik berinisiatif menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal sementara,”ujarnya.
“Awalnya saya di rumah masih belum curiga. Setelah itu, mereka mencari tukang masak untuk di lokasi tambang. Akhirnya disuruhlah sepupu mantan istri saya bersama satu orang sepupu perempuannya yang lain,” ungkap DA
Kecurigaan DA mulai muncul setelah proyek berjalan sekitar tiga hari akibat melihat perubahan gerak-gerik yang tidak wajar. Cekcok rumah tangga pun pecah antara DA dan istrinya (PG). Namun, saat terjadi keributan tersebut, HH selaku korlap alat berat merek Sany itu justru datang mencampuri urusan dan berlagak seolah menjadi pahlawan.
“Saya meminta korlap dan pelaku yang mengganggu istri saya tersebut dihukum dan tidak diperbolehkan lagi menginjakkan kaki di Nagari Galuguah ini,” tegas DA dengan nada geram.

Di sisi lain, skandal ini juga melebar akibat aktivitas di lokasi tambang. Dua wanita setempat, yakni PG dan MM, diketahui kerap pergi bersama untuk mendulang emas secara tradisional di sekitar lokasi aliran sungai yang dikuasai alat berat liar. Faktor cuaca yang terik diduga menjadi alasan awal kedua wanita tersebut sering singgah untuk berteduh di dalam kamp atau basecamp pekerja tambang asal luar daerah tersebut hingga menumbuhkan hubungan asmara terlarang.
“Kasus ini murni perselingkuhan. Saya melihat sendiri wanita itu masuk ke dalam kamp pekerja tambang di tepi sungai. Keduanya terlibat hubungan asmara dengan para pekerja di sana,” ungkap seorang sumber lapangan yang enggan disebutkan namanya. Dua Rumah Tangga Hancur, Suami Korban Mengungsi ke Luar Daerah
Sedangkan Paman DA bernama Ade memang mengetahui bahwa kemanakan awak tau, sebelum pisah ranjang istri kamanakan awak tu memang berselingkuh dengan korlap tersebut dan juga korlap tersebut sudah banyak yang membuat masalah sampai lahan kami serta tanaman kami di garapnya,” ujarnya ke awak media.
Dampak dari skandal ini langsung menghancurkan keharmonisan dua rumah tangga warga lokal. Wanita berinisial MM dilaporkan tertangkap basah oleh suaminya sendiri saat sedang berada di dalam kamar bersama salah seorang pekerja tambang. Sementara itu, PG juga bernasib sama setelah hubungan gelapnya terendus oleh DA.
Bukti digital berupa hasil percakapan aplikasi WhatsApp antara pelaku dan para istri tersebut memperlihatkan pesan-pesan romantis yang sangat intens layaknya dua sejoli yang sedang memadu kasih.
Akibat menanggung beban malu yang mendalam, DA dilaporkan langsung pergi meninggalkan rumah ulayat dan memilih mengungsi ke rumah orang tuanya di kawasan Taram. Keributan besar antar-pasangan suami istri ini sempat pecah dalam seminggu terakhir sebelum para suami akhirnya memilih pergi ke luar daerah.
Suami korban juga mendengar pernyataan teman inisial A serta melihat klw inisial HH pernah membawa istri nya keawak media,”ungkapnya.
Inisial HH menyampaikan keawak media saat dikonfirmasi kalau Ia tidak ada hubungan ama istri orang serta hanya sebatas teman untuk memasak ditambang,” Imbuhnya.
Sangat berbeda pernyataan inisial HH dengan suami korban serta pernyataan dari paman korban akan kejadian ini. Akibat sanksi sosial dan gunjingan yang meluas, kedua wanita yang terlibat perselingkuhan tersebut kini mengurung diri dan tidak berani keluar rumah karena mendapat kecaman keras dari tokoh pemuda serta masyarakat adat.
Situasi sosiologis di Nagari Galugur saat ini diibaratkan seperti bom waktu. Kehadiran para pekerja tambang ilegal dari luar daerah dinilai telah merusak tatanan moral, adat istiadat, serta kesucian tanah ulayat nagari.
Masyarakat Nagari Galugur mendesak Kerapatan Adat Nagari (KAN), niniak mamak, jajaran Polsek Kapur IX, dan Polres Limapuluh Kota untuk segera mengambil tindakan represif. Warga menuntut kamp penambang liar di tepi sungai tersebut segera digerebek, operasional PETI ditutup total, dan para pelaku yang merusak moral kampung halaman mereka diusir demi menghindari aksi main hakim sendiri dari massa yang kian memuncak.
Catatan Redaksi: Seluruh nama, inisial, dan keterangan dalam pemberitaan investigasi ini tetap mengedepankan asas praduga tidak bersalah hingga adanya pembuktian hukum tetap. Redaksi membuka ruang hak jawab, koreksi, dan klarifikasi seluas-luasnya bagi para pihak terkait, perangkat nagari, serta aparat penegak hukum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
TIM
![]()
