SOLOK,Sumbar24jam.com – Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, kian merajalela dan terkesan menantang hukum. Diduga kuat mendapat perlindungan dari “bekingan super kuat”, operasi ilegal yang sudah berlangsung selama dua tahun ini berjalan mulus tanpa tersentuh aparat penegak hukum.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan,serta dilansir dari beberapa media online memuat aktivitas tambang ilegal di kawasan Batang Siki, Garabak Data, digerakkan oleh aktor utama berinisial MW dan ZF.
Tidak tanggung-tanggung, mereka mengoperasikan sedikitnya empat unit alat berat (ekskavator) merek Caterpillar untuk mengeruk kekayaan alam secara membabi buta. Aktivitas ini disebut-sebut sebagai pionir perusakan lingkungan berskala besar di wilayah tersebut.
Selanjutnya gurita mafia BBM bersubsidi yang Terorganisir Kelancaran operasi tambang ilegal ini disokong oleh jaringan mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang sangat terorganisir. Jalur pasokan solar subsidi dipasok langsung dari kawasan Batu Bajanjang.
Ironisnya, gudang atau tempat penimbunan solar subsidi tersebut berada di tengah pemukiman warga, tepatnya di Jorong Muaro, Batu Bajanjang. Bisnis gelap penimbunan BBM ini dikomandoi oleh pemain lokal berinisial RK dan ZN. Minyak yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kecil dan petani, justru dijarah untuk menghidupkan mesin-mesin pengeruk emas ilegal.
Dompeng Merajalela, Sawah Penduduk Hancur dan Aliran Sungai Keruh. Tak jauh dari lokasi tersebut, jeritan masyarakat juga terdengar dari hilir aliran sungai. Aktivitas tambang ilegal menggunakan mesin dompeng dan ponton di sekitar Batu Bajanjang kian meresahkan warga.
Puluhan hektare sawah produktif milik penduduk di sepanjang pinggiran Sungai Batang Palangkih dilaporkan hancur akibat abrasi dan material pembuangan tambang. Aliran sungai yang dulunya jernih kini berubah menjadi keruh pekat dan berlumpur. Warga kini kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan harian dan irigasi.
Masyarakat setempat mengaku hanya bisa mengurut dada. Mereka tidak berani melakukan aksi protes terbuka karena takut memicu konflik horizontal sesama warga.
“Yang menikmati keuntungan hanya segelintir orang, tapi yang akan menanggung bencana banjir dan longsor adalah kami semua masyarakat di sini,” ungkap salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Masyarakat kini hanya bisa berharap kepada ketegasan jajaran Polda Sumatera Barat dan Mabes Polri untuk turun langsung membersihkan mafia tambang dan mafia BBM di Kecamatan Tigo Lurah.
Tim
![]()
