Jakarta, Sumbar24jam.com – Dunia industri kosmetik dan kecantikan tanah air tengah diselimuti awan duka. Pionir sekaligus pendiri Martha Tilaar Group, Dr. (H.C.) Martha Tilaar, dikabarkan meninggal dunia dalam usia 89 tahun pada Rabu (14/10/2026).
Kabar berpulangnya pelopor industri kecantikan berbasis budaya Indonesia ini dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen melalui akun resmi Instagram Martha Tilaar Group.
“Dengan duka cita yang mendalam, keluarga besar Martha Tilaar Group menyampaikan kabar berpulangnya DR. (H.C) Martha Tilaar,” tulis unggahan resmi di akun @martha_tilaar.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, jenazah mendiang Martha Tilaar rencananya akan diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya pada Jumat (16/10/2026).
Ia akan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga yang berlokasi di Karawang, Provinsi Jawa Barat.Kepergian Martha Tilaar meninggalkan warisan yang sangat besar bagi industri kosmetik nasional. Merujuk pada catatan sejarah perusahaan di laman resmi marthatilaargroup.com, langkah awal bisnisnya dimulai dari sebuah ruang garasi sederhana berukuran 4×6 meter pada tahun 1970.
Saat itu, ia membuka salon kecantikan pertamanya di kediaman orang tuanya, Yakob Handana, yang beralamat di Jalan Kusuma Atmaja No. 47, Menteng, Jakarta Pusat. Dedikasi dan keuletannya dalam mengangkat kearifan lokal serta bahan-bahan alami tradisional membuahkan hasil manis.
Bisnis salon kecil tersebut terus bertransformasi ekspansif hingga akhirnya mampu mendirikan pabrik kosmetik modern pertama di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta, pada tahun 1981.
Atas sumbangsih besar dan konsistensinya dalam melestarikan budaya kosmetik berbasis herbal Indonesia di kancah global, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Martha Tilaar pada tahun 2016 silam.
Profil dan Kedekatan dengan Sejarah-Budaya
Lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937, Martha tumbuh besar di lingkungan keluarga yang berkecukupan. Kakeknya dikenal sebagai seorang leveransir atau penyedia barang-barang pada zaman penjajahan Belanda. Masa kecil Martha dihabiskan bersama kedua adiknya di wilayah Gombong, Provinsi Jawa Tengah.
Ketertarikannya pada dunia kecantikan sebenarnya mulai tumbuh setelah ia mengikuti kursus kecantikan di Jakarta. Namun, latar belakang pendidikannya justru bertolak belakang dengan industri yang membesarkan namanya. Martha memilih menempuh kuliah di jurusan Pendidikan Sejarah di IKIP Jakarta.
Pilihan akademis ini bukan tanpa alasan. Sejak kecil, sang ayah sering mendongengkan kisah-kisah heroik Nusantara dan cerita rakyat seperti Joko Tarub hingga perjuangan RA Kartini. Fondasi kecintaan pada sejarah itulah yang memupuk rasa cintanya yang mendalam terhadap kebudayaan lokal—termasuk kesenian rakyat seperti wayang, ketoprak, ludruk, dan ronggeng. Karakter inilah yang kemudian ia tuangkan ke dalam filosofi bisnisnya: memadukan keindahan kosmetik modern dengan warisan tradisi budaya Indonesia.
![]()










