Limapuluh Kota, Sumbar24jam.com — Ketegangan akibat perselisihan kepemilikan tanah berujung anarki di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sebanyak empat orang yang masih satu keluarga dari Pasukuan Picancang dilaporkan menjadi korban dugaan pengeroyokan brutal oleh massa di Jorong Kubang Balambak, Nagari Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka.Peristiwa mencekam tersebut terjadi pada Sabtu (12/9/2026) siang.
Insiden ini sempat terekam dalam rekaman video amatir yang kemudian beredar luas dan viral di media sosial, memancing keprihatinan mendalam dari netizen Sumatera Barat.
Kronologi kejadian berawal keributan pecah ketika kedua belah pihak yang berselisih bertemu di lokasi objek tanah ulayat yang diperselisihkan. Menurut penuturan salah satu korban, Medi (55), tanah tersebut merupakan milik datuknya, almarhum Syah Katib Tamin, yang telah diberikan kepada anaknya, Irmanita (75). Selama tanah tersebut digarap oleh Irmanita, tidak pernah ada gangguan.
“Namun, ada pihak kedua yang mengklaim bahwa tanah tersebut adalah akses jorong. Etek Irmanita kemudian menghubungi saya karena tanah itu mau diambil oleh masyarakat Koto Tinggi Kubang Balambak,” ujar Medi kepada awak media.
Medi menjelaskan bahwa dirinya sudah mencoba memberikan penjelasan mengenai asal-usul kepemilikan tanah tersebut. “Pihak kedua atau masyarakat tidak percaya dengan keterangan dari saya. Makanya terjadilah situasi seperti sekarang,” tambahnya.
Situasi yang semula berupa adu mulut dengan cepat memanas di lapangan hingga memicu pergerakan massa dalam jumlah banyak. Akibat bentrokan yang tidak seimbang, empat anggota keluarga dari Suku Picancang mengalami luka-luka serius di beberapa bagian tubuh akibat hantaman fisik.
Identitas empat korban pengeroyokan tersebut diketahui bernama Medi (55), Fawzi (53), Rikhi Richardo (41), dan seorang tokoh adat, Datuak Jo Lelo (54)tahun.
Setelah situasi berhasil diredam, para korban langsung dilarikan ke fasilitas medis terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif sekaligus melakukan visum sebagai bukti hukum.
Hingga saat berita ini diturunkan, kondisi para korban dilaporkan masih belum stabil. Salah seorang korban mengonfirmasi bahwa Datuak Jo Lelo masih merasakan sakit di bagian dada, sedangkan korban lainnya mengalami nyeri di tulang punggung, telinga, serta kepala. Pihak keluarga menyatakan kemungkinan sang Penghulu akan dibawa kembali ke rumah sakit jika tidak kunjung ada berangsur membaik.
Pihak keluarga menegaskan bahwa mereka menolak berdamai dan akan terus melanjutkan kasus ini ke jalur hukum. “Perkara ini tetap lanjut, harus ada keadilan atas peristiwa pengeroyokan ini,” tegas perwakilan keluarga korban. Pihak korban juga telah mendatangi markas kepolisian untuk membuat laporan resmi terkait tindakan kekerasan secara bersama-sama yang mereka alami.
Wali Nagari Simpang Kapuak, Felliadi, saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp menyatakan bahwa dirinya bersama masyarakat berencana akan mendatangi kantor Camat dan Polsek Guguak untuk berkoordinasi terkait persoalan ini.
Di sisi lain, Kapolsek Guguak, IPTU Hamrizal, S.H., M.H., serta Ketua KAN setempat, Haji Son, belum memberikan keterangan pasti maupun tanggapan saat dikonfirmasi oleh awak media melalui telepon WhatsApp mengenai insiden yang menimpa salah satu Datuak Penghulu tersebut.
Hingga saat ini, suasana di Jorong Kubang Balambak dilaporkan berangsur kondusif. Meski demikian, aparat kepolisian tetap bersiaga dan melakukan pemantauan ketat di sekitar lokasi untuk mengantisipasi adanya bentrokan susulan.
Banyak pihak, termasuk tokoh masyarakat Sumatera Barat, sangat menyayangkan terjadinya insiden berdarah ini. Masyarakat diimbau agar segala bentuk perselisihan terkait tanah ulayat diselesaikan melalui koridor hukum yang sah atau melalui musyawarah mufakat yang melibatkan Niniak Mamak, alih-alih menggunakan tindakan main hakim sendiri yang merugikan semua pihak.
![]()












