Payakumbuh,Sumbar24jam.com – Keberanian melahirkan kebaruan di tengah kepungan dogma konservatif daerah menuntut pengorbanan besar. Pada era digital siber, tantangan terbesar pelaku kreatif lokal bukan lagi sekadar modal finansial. Mereka harus merawat daya tahan mental menghadapi benturan kultur komunal yang skeptis.
Keresahan ini mengusik pikiran saat menyimak dialog intim Kusieh Bendi Podcast bersama Om Chenk. Ia merupakan sosok di balik fenomena kuliner lokal “Tansu Omceng”.
Kisah kepulangannya dari perantauan sarat tragedi domestik hingga sukses mengubah gerobak darurat. Kini, usaha itu menjelma menjadi ekosistem creative space pertama di Sumatra Barat.
Kebuntuan Zona Nyaman Kota Festival
Reputasi masa lalu kota Payakumbuh sejak lama menyandang legalitas informal sebagai “kota festival” musisi lintas provinsi.
Disonansi realitas talenta muda hari ini kerap terjebak zona nyaman komersial yang dangkal.
Krisis orisinalitas banyak yang hanya berani melangkah “sampai di situ saja” tanpa memproduksi karya orisinal.
Horisinalregulasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) otomatis memangkas sponsor utama hiburan konvensional.
Pelaku industri kreatif wajib mengubah strategi dengan membangun platform dan menciptakan peluang mandiri.
Rumus Kemandirian dan Inkubasi Gagasan
Kemandirian ekosistem kreatif daerah akan tegak melalui ketajaman pengetahuan kultur lokal. Pelaku usaha juga harus jeli dalam memilih lingkaran pertemanan yang produktif. Mitos bahwa pergerakan seni arus bawah atau rintisan mikro tidak mampu bersaing global harus diruntuhkan.
Bukti otentik terlihat dari keaslian resep “Tansudin” yang menembus panggung tayangan nasional Vindes. Keberhasilan itu bahkan membawa sang kreator terbang melakukan ekspansi karya hingga ke Sydney. Hal ini menegaskan orisinalitas yang dirawat dengan mental baja pasti akan menemukan pasarnya sendiri.
Sebagai rekomendasi konkret, PT Dimensia Digital Multimedia menawarkan wadah berbagi (sharing sessio. Melalui program alami seperti “Sound Talk”, proses inkubasi gagasan anak muda dapat difasilitasi berkelanjutan.
Mengacu Filosofi Batang Ubi Minangkabau
Masyarakat harus mencamkan amanat filosofis Minangkabau mengenai esensi dari pertumbuhan batang ubi. Ke mana pun ia dicampakkan, ia harus tetap mampu beradaptasi, tumbuh, dan bermanfaat bagi lingkungan. Jangan biarkan wilayah yang toksik mengubur potensi besar anak kemenakan kita di Luak Limopuluah.
Seluruh pemangku kepentingan, komunitas seni, hingga birokrasi pariwisata wajib menyatukan sinergi langkah. Kita tidak boleh menjadi penonton pasif, melainkan fasilitator yang berani berdiri demi kebenaran karya. Kompetensi jurnalistik senior pada akhirnya bertumpu pada ketajaman pena dan kejernihan mikrofon redaksi.
Penulis: Herman, R
(Direktur Utama PT Dimensia Digital Multimedia & Pimpinan Kusieh Bendi)












