Air Mata Luak 50, Lepas Kepergian Edward Bendang, Puluhan Tokoh dan Jurnalis Hadir Mengantarkan Senior Pers ke Peristirahatan Terakhir

LUAK 50,Sumbar24jam.com – Langit Luak Limopuluah bergelimang duka mendalam. Kepergian sang jurnalis senior, Edward Bendang, tidak hanya mematahkan hati keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga memicu rasa kehilangan luar biasa bagi segenap tokoh daerah, pejabat publik, hingga ratusan rekan sejawat sesama kuli tinta.

Almarhum menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi pada Jumat malam, sekitar pukul 02.00 WIB, setelah sepekan terakhir berjuang melawan penyakitnya. Kabar duka yang menyebar pada Sabtu pagi itu laksana petir di siang bolong, menyentak kesadaran sahabat dan kolega yang selama ini mengenal almarhum sebagai sosok pemberani.

Sejak Sabtu pagi hingga prosesi pemakaman di siang hari, rumah duka terus dibanjiri pelayat. Solidaritas tanpa batas terlihat saat para tokoh penting dari Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota hadir langsung memberikan penghormatan terakhir.

Pada pagi hari di rumah duka, tampak hadir Wakil Walikota Payakumbuh Elzadaswarman, Ketua DPRD Kota Payakumbuh Wirman Putra, Kadis PU Kota Payakumbuh Muslim ST, MSi, serta deretan Ninik Mamak dan pemuka masyarakat.

Sementara saat prosesi pemakaman di siang hari, Bupati Lima Puluh Kota yang diwakili oleh Ahlul Badrito Resha hadir melepas jenazah bersama Mantan Bupati Efendi Arbi, Anggota DPRD 50 Kota Fajar Vesky, serta Herman R (Uda Ujang Niar)—sosok tokoh masyarakat, kader politik senior, sekaligus host podcast ternama di wilayah Luak Limopuluah.

Puluhan karangan bunga dari berbagai instansi, lembaga swasta, dan tokoh politik turut mengepung area rumah duka sebagai simbol duka cita yang mendalam.

Suasana paling menyayat hati terlihat ketika puluhan wartawan dan wartawati dari lintas organisasi pers—seperti PWI, AJI, IWO, dan SMSI—berkumpul merapatkan barisan. Mereka membentuk pagar betis penghormatan, sebuah tradisi pelepasan tertinggi bagi seorang ksatria pena.

Sebagai simbol persaudaraan profesi yang sakral, para jurnalis senior dan junior bahu-membahu menggotong keranda jenazah Edward Bendang menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Isak tangis pecah di area pemakaman saat doa pelipur lara dilantunkan.

“Almarhum adalah sosok yang selalu peduli dan konsisten memperjuangkan kesejahteraan para wartawan. Visinya melahirkan terobosan ekonomi demi kemakmuran jurnalis lokal akan selalu kami kenang,” ungkap salah satu tokoh pers di lokasi.

Para jurnalis yang hadir sepakat mengikrarkan janji untuk melanjutkan komitmen almarhum dalam menjaga marwah dan kekompakan di Balai Wartawan Luak Limopuluah.

Permohonan Maaf dan Terima Kasih Keluarga
Di sela-sela rasa duka yang menguras air mata, perwakilan keluarga besar almarhum menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh lapisan masyarakat, insan pers, serta para tokoh penting Luak 50 yang telah meluangkan waktu mengantar Edward Bendang ke liang lahat.

“Kami atas nama keluarga besar memohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata, sikap, atau perbuatan almarhum yang tidak pada tempatnya semasa hidup dalam bergaul. Mohon dimaafkan,” tutur perwakilan keluarga dengan nada lirih.

Edward Bendang kini telah tiada, namun semangat kerja keras, independensi, dan keteguhannya dalam dunia jurnalistik akan tetap hidup, menjadi warisan berharga yang abadi bagi generasi jurnalis muda di Sumatera Barat. Selamat jalan, Bang Edward Bendang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *