Payakumbuh, Sumbar24jam.com – Kabar duka menyelimuti dunia jurnalistik Sumatera Barat, khususnya di wilayah Luak Limapuluh (Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota). Edwar Hafri (62), atau yang lebih akrab disapa Edwar Bendang, wartawan senior yang dikenal dengan tulisan kritisnya, telah dipanggil menghadap Sang Khalik, Sabtu(4/7/2026).
Almarhum menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi pada Jumat malam, sekitar pukul 02.00 WIB, setelah sempat berjuang melawan sakit yang dideritanya selama sepekan terakhir. Kepergian sosok jurnalis pemberani ini bak petir di siang bolong bagi keluarga, sahabat, dan rekan sejawat yang terkejut menerima kabar duka pada Sabtu pagi.
Semasa hidupnya, Edwar Bendang dikenal sebagai jurnalis yang memiliki integritas tinggi dan tak gentar dalam menyuarakan kebenaran. Tulisannya yang tajam dalam mengungkap berbagai kasus di Sumatera Barat seringkali membuat para pemangku kebijakan “panas dingin”. Nama besar almarhum tercatat pernah ikut membesarkan Koran Mingguan Zaman dan Koran Mingguan Investigasi.
Di balik penanya yang tajam, almarhum adalah pribadi yang sangat sederhana, periang, dan menjadi ruh dalam setiap perkumpulan. Rekan-rekan seprofesinya mengenang almarhum sebagai sosok yang hangat. “Tak ramai tanpa dia,” ujar salah seorang sahabat lamanya yang sering berburu kasus bersama almarhum selama puluhan tahun.
Edwar juga dikenal sebagai mentor yang selalu memberikan pencerahan dan solusi berani bagi para jurnalis muda saat berdiskusi mengenai investigasi kasus.
Kepergian Edwar Bendang menjadi kehilangan besar bagi dunia pers Sumatera Barat. Namun, dedikasi, karya, dan jejak pengabdiannya akan tetap abadi sebagai teladan bagi generasi penerus dunia jurnalistik.
Almarhum meninggalkan dua orang buah hati, Suci Wulandari dan Panji Muhammad. Saat ini, jenazah almarhum telah dibawa ke rumah duka di Kabupaten Lima Puluh Kota untuk disemayamkan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menghadapi ujian ini. Selamat jalan, sang pena tajam Luak Limapuluh.











