Potret Pilu Keluarga Tak Mampu, Ditinggal Suami dan Rawat Anak Difabel di Rumah Lapuk, Eka Putri Berharap Bantuan Rumah Layak Huni

Limapuluh Kota (Taeh Baruah), Sumbar24jam. com — Kisah memilukan datang dari salah satu sudut daerah di Jorong Dalam Koto, Nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Eka Putri (45), seorang ibu rumah tangga, harus menelan pahitnya getir kehidupan dengan berjuang sendirian bertahan hidup di sebuah rumah reot yang kondisinya sudah sangat lapuk dan nyaris roboh.

Beban hidupnya kian berat karena harus merawat putri bungsunya, Abel Adelia Putri (16), yang mengalami keterbatasan fisik (difabel) sejak kecil. Penderitaan Eka semakin berlipat ganda setelah sang suami pergi meninggalkan rumah tanpa kabar, memutus rantai nafkah dan sandaran ekonomi keluarga.

Kini, impian terbesar Eka hanyalah mendapatkan bantuan Rumah Layak Huni (RLH) agar anak-anaknya bisa berteduh dengan aman.

Kondisi tempat tinggal Eka bersama dua anaknya—Muhammad Romel (21) dan Abel—sangat memprihatinkan. Dinding papan rumah yang telah ditempati puluhan tahun itu sudah lapuk dimakan usia, berlubang di sana-sini, dan tiang penyangganya mulai miring.

Saat hujan deras melanda kawasan Taeh Baruah, air langsung merembes masuk membasahi lantai melalui sela-sela lubang seng yang berkarat, memaksa Eka untuk menggeser tempat tidur Abel agar tidak kedinginan.

Mendengar laporan dari masyarakat, Tim Kemanusiaan Luak 50 langsung bergerak menuju lokasi. Tim ini memiliki kedekatan emosional karena tiga tahun lalu sempat menyalurkan bantuan kursi roda untuk Abel, yang bersumber dari sumbangan Yayasan Biksu Muda Peduli Bangsa Jakarta.

Saat Tim Kemanusiaan mempertanyakan mengapa rumah tersebut belum juga diperbaiki, Eka mengaku hanya bisa pasrah menanti kepastian.

“Kami masih menunggu bantuan rumah dari pemerintah serta kepastian yang jelas untuk rumah yang kami tempati ini. Perangkat Nagari pun sudah hadir meninjau langsung rumah kami, namun hingga kini bantuan perbaikan belum juga terealisasi,” tutur Eka dengan mata berkaca-kaca, Kamis (24/9/2026).

Merespons keluhan tersebut, Tim Media dan Relawan Kemanusiaan langsung mendatangi Kantor Wali Nagari Taeh Baruah untuk meminta konfirmasi. Pihak pemerintah nagari membenarkan bahwa keluarga Eka Putri masuk ke dalam data desil prioritas kelayakan bantuan.

“Data untuk pengajuan bantuan rumah buat keluarga ini sebenarnya telah kami ajukan ke tingkat atas. Namun, sampai hari ini anggaran atau program perbaikan rumah layak huni untuk keluarga miskin tersebut memang belum diturunkan,” jawab pihak perangkat nagari saat dikonfirmasi.

Berjuang Sendiri Tanpa Penghasilan Tetap
Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan biaya perawatan Abel, Eka Putri yang menghabiskan waktu 24 jam di rumah hanya bisa mengandalkan kerja serabutan di sekitar lingkungan tetangga jika ada yang membutuhkan tenaganya.

“Setiap hari saya hanya bisa berdoa agar rumah ini tidak roboh saat kami tidur. Suami sudah lama pergi, jadi tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk memperbaiki rumah. Jangankan untuk membangun rumah layak, untuk makan sehari-hari saja kami sering kesulitan dan dibantu oleh tetangga sekitar,” keluh Eka pilu.

Keluarga miskin ini sangat berharap adanya kepekaan sosial dan atensi nyata dari Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota melalui Dinas Sosial serta Dinas Perkim, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), maupun komunitas donatur. Bantuan hunian yang layak menjadi kebutuhan yang sangat mendesak demi menjamin keselamatan jiwa Abel serta kelangsungan hidup keluarga ini dari ancaman struktur bangunan yang sewaktu-waktu bisa ambruk.

Tim

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *