Kisah Pilu Yenni di Limapuluh Kota: Pernah Buta hingga Bertahan di Rumah Tak Layak, Berharap Uluran Tangan Bupati

Limapuluh Kota, Sumbar24jam.com – Air mata Yenni (38) tahun tumpah saat menceritakan getirnya perjalanan hidup yang harus ia lalui bersama keluarganya. Tinggal di gubuk yang jauh dari kata layak di Jorong Indo Baleh Barat, Nagari Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Kamis (2/7/2026).

Yenni kini hanya bisa menggantungkan harapan besar kepada Bupati Limapuluh Kota, Safni Sikumbang. Kehidupan Yenni dipenuhi lika-liku yang berat. Ia mengisahkan, dirinya sudah menempati lokasi tersebut sejak tahun 2007 bersama suami pertamanya. Namun, badai rumah tangga menerpa hingga mereka berpisah.

Ironisnya, saat berpisah, atap seng rumah yang mereka huni dibawa pergi oleh mantan suaminya ke kampung halaman. Sejak saat itu, Yenni harus berjuang sendirian (menjadi seorang ibu dari anak anak tampa sang suami menghidupi kedua anaknya, Rahmat Ilham Pratama dan Muhammad Hanim. Demi membiayai sekolah dan makan sehari-hari buah hatinya, Yenni rela melakoni pekerjaan apa saja asalkan halal,ujarnya ke media.

“Dulu saya berjualan es teh dan cilok di Simpang Padang Ateh, dekat Puskesmas Mungo. Namun ujian berat kembali datang, saya jatuh sakit hingga mengalami kebutaan pada kedua mata,” kenang Yenni dengan suara bergetar.

Di tengah keterbatasan biaya untuk berobat, mukjizat datang berkat gotong royong warga setempat, perantau, serta bantuan Wali Nagari yang membuatkannya BPJS Kesehatan Mandiri.

Setelah dua minggu menderita kebutaan, penglihatan Yenni akhirnya kembali normal. Namun, hingga saat ini, kartu BPJS tersebut masih menyisakan tunggakan sebesar Rp700 ribu, membuat Yenni belum bisa beralih ke fasilitas BPJS gratis dari pemerintah.

Kini, Yenni telah memulai hidup baru setelah menikah dengan suami keduanya bernama Gusti. Gubuk yang mereka tempati saat ini dibangun berdua dengan material seadanya karena ketiadaan biaya.Untuk menyambung hidup, Gusti bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan yang tidak menentu.

Sementara itu, kebutuhan biologis dan pendidikan anak-anak mereka kian meningkat. Anak pertama mereka kini naik ke kelas 3 SMP, sedangkan anak kedua naik ke kelas 5 SD.

“Kalau sakit saya kambuh, saya tidak bisa membantu suami bekerja. Sementara anak-anak sangat butuh biaya sekolah. Untuk makan sehari-hari saja kami sudah kesulitan,” keluhnya pada awak tim media.

Meski demikian, Yenni mengaku sangat bersyukur karena perhatian pemerintah daerah tetap mengalir melalui bantuan sosial.
“Alhamdulillah, bantuan pemerintah seperti BLT, bantuan beras, hingga sembako tetap kami terima. Kami sangat berterima kasih. Namun, saat ini kami hanya ingin rumah kami bisa dibantu agar layak dihuni,” tuturnya.

Melalui media ini, dengan mata berkaca-kaca, Yenni menyampaikan permohonan yang mendalam kepada Bupati Limapuluh Kota agar sudi melihat kondisi keluarganya.

“Tolong kami, Pak Bupati Safni Sikumbang”, ujarnya saat air mata mengalir membasahi pipinya.

Kami sudah sangat lama bertahan merasakan rumah yang tidak layak huni ini. Semoga permintaan kami dikabulkan demi tempat berteduh anak-anak kami yang masih kecil dan bersekolah,” harap Yenni mengakhiri tangisnya.

Sementara itu, saat awak media mencoba mengonfirmasi situasi ini kepada Wali Nagari Mungo, Muhammad Suhardi, S.Pt., melalui pesan singkat WhatsApp, yang bersangkutan belum memberikan jawaban hingga berita ini diturunkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *