Limapuluh Kota,Sumbar24jam.com – Tanggal 20 Februari 2025 menjadi titik nol sebuah perjalanan panjang. Setahun sudah H. Safni dan Ahlul Badrito Resha (Sakato) menakhodai kabupaten Limapuluh Kota. Bukan sekadar hitungan kalender, satu tahun ini adalah fase krusial di mana pondasi martabat daerah mulai dipancangkan demi kejayaan lima tahun ke depan.
Publik tersentak ketika di awal masa jabatannya, pasangan Sakato mengambil langkah tak lazim, menolak pengadaan mobil dinas mewah seharga miliaran rupiah. Bagi mereka, kenyamanan duduk di atas kursi empuk mobil baru tak sebanding dengan tangis warga yang terdampak bencana.
“Anggaran mobil dinas itu, alihkan saja untuk membeli ekskavator. Daerah kita rawan bencana, rakyat lebih butuh alat berat di lapangan daripada bupatinya punya mobil baru,” tegas Bupati Safni saat itu. Sebuah kalimat yang kini menjadi legenda di hati masyarakat.
Peringatan PDRI ke-77, Bupati Safni dan Kapolres Syaiful Wachid Kompak Serukan “Teguhkan Bela Negara” Seolah tak mengenal kata istirahat, Bupati Safni “ber-kantor” di sela penerbangan Limapuluh Kota–Jakarta. Ia bukan sekadar datang, tapi membawa sejuta proposal harapan.
Mulai dari koridor Kementerian hingga ruang-ruang di Istana Kepresidenan disambanginya demi meyakinkan Pemerintah Pusat bahwa Limapuluh Kota adalah raksasa tidur yang harus segera dibangunkan.
Lobi-lobi cerdas dengan tokoh nasional seperti Andre Rosiade, Cindy Monica, hingga Letjen (Purn.) Anto Mukti Putranto, bukan sekadar basa-basi politik. Hasilnya nyata: Kue pembangunan yang dulu sulit dijangkau, kini mulai terhidang di depan mata.
Kegigihan itu berbuah manis. Dana miliaran rupiah mengucur melalui Inpres 2/2025. Hasilnya? Parit-parit sawah yang dulu kering di Bandar Aur Duri hingga Batang Tabik kini kembali dialiri air, membawa napas lega bagi ribuan petani.
Tak hanya itu, kutukan “jalan berlubang” di jalur Payakumbuh-Lintau yang bertahun-tahun dikeluhkan masyarakat, kini mulai sirna. Kehadiran Menteri PU Dody Hanggodo ke lapangan menjadi bukti bahwa suara dari daerah benar-benar didengar di pusat.
Bagi pasangan Sakato, membangun fisik tanpa membangun jiwa adalah sia-sia. Ambisi membangun SMA Taruna Nusantara dan Sekolah Rakyat adalah janji bagi anak-anak miskin agar tetap bisa bermimpi setinggi langit.
“Sekolah Rakyat adalah ruang tumbuhnya harapan bagi mereka yang tak terjangkau sistem formal,” ujar Bupati dengan nada menyentuh.
Keberhasilan menjadi Juara Umum MTQ Nasional Tingkat Sumbar ke-41 di Bukittinggi adalah mahkota dari program “Sakato Mangaji”. Limapuluh Kota kini tak hanya maju secara ekonomi melalui branding The Central of Agro, tapi juga membumi dengan karakter religius yang kuat.
Melalui program SAKATOLIKO, pasangan ini memastikan bahwa pekerja rentan, mereka yang bertaruh nyawa di lapangan, kini memiliki sandaran melalui jaminan BPJS Ketenagakerjaan. Ini adalah bukti bahwa pemerintah hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai pelindung.
Satu tahun ini hanyalah awal. H. Safni dan Ahlul Badrito Resha telah membuktikan bahwa dengan ketulusan, keterbatasan anggaran bukan penghalang. Mereka telah meletakkan standar baru: bahwa pemimpin sejati adalah ia yang kakinya berlumpur di sawah rakyat, namun tangannya mampu menarik anggaran dari pusat demi kesejahteraan umat.
![]()
