Oplus_131072
Sumbar24jam.com|Padang-Di Ranah Minang,narkotika bukan lagi sekadar isu kriminal.Ia telah menjelma menjadi ancaman sunyi yang perlahan menggerogoti sendi kehidupan masyarakat, dan merusak masa depan generasi muda.
Di tengah kegelisahan itu, Firman Sikumbang memilih berdiri di garis depan, memikul tanggung jawab moral sebagai Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat.
Bagi Firman, persoalan narkotika tidak bisa dilihat secara sempit. Ia selalu menekankan bahwa dampaknya jauh melampaui urusan hukum.
“Narkotika bukan hanya merusak tubuh, tapi menghancurkan akhlak dan masa depan. Ketika satu anak Minangkabau jatuh, yang terluka bukan dia saja, tapi seluruh kaum dan nagari,” ujarnya.
Pandangan itu menjadi fondasi kepemimpinannya. Firman Sikumbang tidak ingin LAN hadir sekadar sebagai lembaga formal, tetapi sebagai bagian dari denyut sosial masyarakat. Ia memahami betul, Minangkabau dibangun di atas nilai adat dan agama, jika dua pilar ini runtuh, maka kehancuran akan datang secara perlahan.
“Di Minangkabau, adat dan agama adalah benteng utama. Kalau benteng ini kita biarkan rapuh, maka narkotika akan masuk tanpa permisi,” tegasnya.
Kepemimpinan yang Berangkat dari Akar Budaya
Sebagai pemimpin LAN Sumbar, Firman Sikumbang memilih pendekatan kultural. Ia merangkul ninik mamak, bundo kanduang, alim ulama, pemuda, serta tokoh masyarakat untuk kembali menguatkan peran masing-masing.
Baginya, kekuatan sosial Minangkabau adalah senjata paling efektif dalam pencegahan narkotika.
“Ninik mamak, bundo kanduang, alim ulama, dan pemuda harus kembali satu barisan. Kalau kita bersatu, narkotika tidak punya ruang di nagari,” katanya.
Firman percaya, ketika kampung kuat, maka generasi akan terlindungi. Karena itu, LAN di bawah kepemimpinannya aktif membangun kolaborasi lintas sektor, tanpa sekat ego kelembagaan.
“LAN tidak berdiri di atas masyarakat, tapi di tengah masyarakat. Karena menjaga generasi adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya menegaskan.
Bukan Menghakimi, Tapi Menyelamatkan
Dalam menangani persoalan narkotika, Firman Sikumbang menolak pendekatan yang semata-mata menghukum. Ia menaruh perhatian besar pada sisi kemanusiaan, terutama bagi generasi muda yang terjerumus akibat lingkungan dan kurangnya perhatian.
“Kami di Lembaga Anti Narkotika tidak ingin hadir sebagai hakim. Kami ingin hadir sebagai pengingat, bahwa setiap anak masih punya peluang untuk diselamatkan,” ungkapnya.
Menurut Firman, keluarga memegang peran sentral. Rumah adalah benteng pertama yang menentukan arah masa depan anak.
“Keluarga adalah benteng pertama. Kalau rumah sudah dingin dari perhatian, narkoba akan datang membawa kehangatan palsu,” katanya lirih, namun penuh makna.
Dari Lapau ke Ruang Kebijakan
Salah satu ciri khas Firman Sikumbang adalah kesediaannya turun langsung ke lapangan. Ia tidak canggung berdiskusi di lapau, menyimak keresahan warga, atau mendengar keluhan orang tua yang khawatir kehilangan anaknya.
Bagi Firman, lapau adalah ruang kejujuran, tempat masalah dibicarakan apa adanya. Ia meyakini, kebijakan yang kuat harus lahir dari suara masyarakat, bukan sekadar data di atas kertas.
“Perang melawan narkotika tidak bisa hanya mengandalkan hukum. Ini adalah perang moral, perang kesadaran, dan perang kepedulian,” tegasnya.
Menanam Harapan, Menjaga Masa Depan
Dalam setiap sosialisasi ke sekolah, kampus, dan komunitas pemuda, Firman selalu menekankan pentingnya mendengar suara generasi muda. Menurutnya, larangan tanpa empati hanya akan menciptakan jarak.
“Anak-anak kita tidak cukup hanya diberi larangan. Mereka perlu didengarkan, dipeluk, dan diarahkan,” ujarnya.
Ia sadar, perjuangan ini bukan kerja singkat. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi Firman percaya setiap ikhtiar akan bermakna.
“Saya percaya, setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini, sosialisasi, diskusi di lapau, adalah investasi untuk masa depan Sumatera Barat,” katanya.
Di tengah keterbatasan dan tantangan zaman, Firman Sikumbang memilih istiqamah. Ia memandang perjuangan melawan narkotika sebagai amanah yang harus dijalani dengan kesabaran dan keikhlasan.
“Melawan narkotika adalah kerja panjang. Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat, tapi saya yakin Allah mencatat setiap ikhtiar yang dilakukan dengan niat baik,” tutupnya.
Di Ranah Minang, ketokohan Firman Sikumbang kini bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang keteladanan. Tentang keberanian menjaga nilai, merawat generasi, dan memastikan masa depan Sumatera Barat tidak dirampas oleh ancaman yang bernama narkotika.(Tim)
![]()
