Sumbar24jam.com|PADANG – Amran Sidi lahir pada 20 September 1929 di Padang Panjang, sebuah kota kecil yang kelak menjadi saksi awal perjalanan hidupnya. Ia tumbuh dalam kesederhanaan, menjalani masa muda dengan tekad kuat untuk bekerja keras dan bertanggung jawab atas hidup serta keluarganya.
Pada tahun 1952, H. Amran Sidi menikah dengan seorang putri Padang Panjang bernama Rusma. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat orang anak. Kehidupan keluarga kecil itu berjalan sebagaimana keluarga pada umumnya, hingga takdir berkata lain. Pada tahun 1958, Rusma meninggal dunia, meninggalkan duka mendalam bagi H. Amran Sidi dan keempat anaknya yang masih kecil.
Di akhir tahun yang sama, 1958, H. Amran Sidi kembali menikah. Pilihannya jatuh kepada Jusma, seorang putri Rambatan, Batusangkar, yang dikenalnya ketika Jusma sering melintas di Padang Panjang, tempat ia menuntut ilmu. Pernikahan ini menjadi awal kisah panjang kebersamaan yang sarat perjuangan.
H. Amran Sidi dan Jusma menetap di Padang Panjang, hidup bersama empat anak dari pernikahan sebelumnya. Jusma menerima mereka dengan sepenuh hati. Ia dikenal sangat dekat dan penuh kasih kepada keempat anak sambungnya, merawat mereka seolah anak kandung sendiri.
Tiga tahun pernikahan berlalu. Pada tahun 1961, kebahagiaan keluarga bertambah dengan lahirnya seorang putri cantik yang diberi nama Retno Yulvi. Namun, kebahagiaan itu berjalan beriringan dengan kenyataan hidup yang tidak mudah.
Kondisi ekonomi di Padang Panjang saat itu tidak stabil. Dengan lima orang anak yang harus dinafkahi, H. Amran Sidi bekerja apa saja—mulai dari servis jam hingga pekerjaan serabutan.
Akhirnya, dengan sisa uang yang ada dan tekad untuk mengubah nasib, H. Amran Sidi dan Jusma memutuskan merantau ke Kota Padang. Mereka mengontrak rumah sederhana di Los Baro, Padang. Saat itu, Retno Yelvi masih bayi, baru berusia hitungan bulan.
Di Kota Padang inilah kehidupan mulai menunjukkan secercah cahaya. Perlahan namun pasti, apa pun yang dikerjakan H. Amran Sidi seakan diberi keberkahan.
Dari kerja keras tanpa lelah, ia berkembang menjadi distributor garam di Sumatera Barat, bahkan merambah ke Jambi, Riau, hingga Medan. Ia bermukim dan berusaha di Jalan M. Yamin, Padang.
Usaha yang dirintis dari nol itu terus berkembang. Selain berdagang, H. Amran Sidi juga menekuni dunia kontraktor. Banyak pertokoan di Jalan Pemuda, Jalan M. Yamin, serta Pasar Raya Padang yang dibangun melalui tangan dan tanggung jawabnya.
Di balik keberhasilan itu, Jusma memainkan peran penting—dengan tangan dinginnya, kejelian melihat peluang, dan aktivitasnya sebagai aktivis perempuan, ia menjadi pendamping sejati dalam setiap langkah.
Pada tahun 1973, H. Amran Sidi dan Jusma menunaikan Rukun Islam kelima, berangkat ibadah haji bersama. Perjalanan spiritual ini semakin menguatkan tekad mereka untuk berbuat lebih banyak bagi umat dan pendidikan.
Dalam perjalanan hidupnya, H. Amran Sidi kemudian menikah lagi dengan Zairat, seorang pegawai gudang garamnya yang juga bertugas sebagai sekretaris. Dari pernikahan ini lahir dua anak, Rika Amran dan Sari Amran. Seiring waktu, Zairat memilih menjadi ibu rumah tangga dan posisinya di gudang digantikan oleh Maimunah.
Tahun 1975 menjadi titik penting lainnya. Muktamar Aisyiyah digelar di Surabaya. Hj. Jusma, bersama Hj. Nurma Tajab dan Hj. Asma Malin, berangkat mewakili Sumatera Barat. Sebelum ke Surabaya, tiga srikandi ini singgah di kediaman Mohammad Natsir, tokoh nasional dan mantan Perdana Menteri Republik Indonesia. Di sana, mereka menyerap banyak pemikiran dan gagasan demi kemajuan pendidikan dan agama di Sumatera Barat.
Mereka juga bertemu tokoh-tokoh perempuan Sumbar lainnya yang hadir di kediaman M. Natsir.
Sepulang dari Surabaya, Hj. Jusma menyampaikan hasil pertemuan tersebut kepada H. Amran Sidi, termasuk usulan M. Natsir untuk mendirikan sebuah yayasan pendidikan di Sumatera Barat.
” Gayung bersambut. H. Amran Sidi langsung menyatakan persetujuannya.
Maka pada 20 September 1979, bertepatan dengan hari kelahiran H. Amran Sidi, berdirilah Yayasan Pendidikan Baiturahmah, di bawah Akta Notaris Abdul Kadir Usman Nomor 60, beralamat di Jalan Damar, Padang.
Susunan pengurusnya adalah:
Ketua: H. Amran Sidi Sutan Sulaiman
Sekretaris: Hj. Jusma
Bendahara: Retno Yelvi
Yayasan ini berkembang pesat:
SD (1981), SMP (1983), SMA (1984), STIE (1986), Sekolah Ilmu Kedokteran Gigi (1987), Akper Baiturahmah (1996), hingga pengembangan rumah sakit.
Pada 1982, seorang
bernama Maizarnis mendaftar sebagai guru di Yayasan Baiturahmah. Setelah evaluasi, ia dinilai tidak layak menjadi pendidik dan dipindahkan sebagai pegawai yayasan.
H. Amran Sidi dan Hj. Jusma juga menawarkan tempat tinggal bagi guru atau pegawai yang masih lajang. Dari beberapa nama, hanya Maizarnis yang menerima tawaran tersebut.
Seiring waktu, Maizarnis kerap mendampingi H. Amran Sidi dalam berbagai kegiatan, termasuk perjalanan dinas ke luar kota hingga Jakarta.
Pada 1984, H. Amran Sidi menikahi Maizarnis. Pernikahan ini mengejutkan banyak pihak, termasuk Retno Yelvi, dan mereka sempat tinggal serumah dengan Hj. Jusma. Dari pernikahan ini lahir tiga anak: Wahyu Amran, Fadli Amran, dan Ikhsan Amran.
Ketegangan dalam rumah tangga tidak terhindarkan. Hj. Jusma akhirnya meminta Maizarnis pindah ke rumah di Jalan Pattimura No. 16 Padang, rumah milik Hj. Jusma dan H. Amran.
Meski tidak lagi tidur di rumah Hj. Jusma, setiap pagi H. Amran Sidi selalu singgah untuk menikmati secangkir kopi buatan Hj. Jusma, dan sore hari kembali melakukan hal yang sama—sebuah kebiasaan kecil yang menyimpan makna besar.
Demi pengembangan yayasan dan rumah sakit, Hj. Jusma menjual sejumlah aset dan tanah, lalu membeli lahan di Air Pacah. Dari pengorbanan itulah berdiri Rumah Sakit Siti Rahmah dan Kampus Baiturahmah yang kini tampak megah.
Namun, tragedi besar terjadi pada 27 Januari 1996. Kota Padang digemparkan oleh meninggalnya pendiri Yayasan Baiturahmah bersama pembantunya. Peristiwa itu hingga kini disebut belum terungkap sepenuhnya, meninggalkan luka dan tanda tanya mendalam, terutama bagi Retno Yelvi.
Pada tahun yang sama, 1996, Maizarnis dan keluarganya mendirikan Yayasan Baiturahmah 1, 2, 3, dan 4 dengan akta yang berada di bawah Yayasan Baiturahmah. Hingga H. Amran Sidi wafat pada tahun 2021, pengelolaan Yayasan Baiturahmah disebut berada di bawah kendali Maizarnis dan keluarganya.(***)
![]()
