
Limapuluh Kota,www.Sumbar24jam.com – Sungguh sangat miris dan memprihatinkan kehidupan salah satu keluarga bernama Erianto (45) Tahun yang sehari harinya bekerja sarabutan dan istri Rini Fatmayulia (43) serta dua orang anak anak beliau harus tinggal disebuah heler gilingan padi yang tidak berfungsi, Sabtu (30/8/2025)
Keluarga kurang mampu ini telah lama berdiam di bekas heler gilingan padi ini walau satu buah bola lampu terpasang menerangan gudang gilingan padi tersebut. Pasutri ini telah hampir 6 tahun bertempat tinggal digudang tersebut, berlokasi di jorong Koto Tangah Kanagarian Lubuk Tingkok Kecamatan Harau Kabupaten 50 Kota.
Mendapat laporan masyarakat Awak media bersama anggota LSM GIB luak50 datang bersama menemui kediaman Erianto serta melihat kehidupannya jauh dari harapan.
Erianto (45) seorang pekerja keras serabutan dengan penghasilan tidak pasti, terpaksa tinggal di bekas Heler gilingan padi salah satu warga yang gudang tersebut hingga saat ini yang sudah tidak berfungsi lagi serta tidak layak saat tim LSM GIB bersama awak media mendatangi kediamannya.
Bersama Erianto dan isteri (43), dan dua anaknya yang satu masih menempuh pendidikan, mereka tinggal di rumah tak layak huni tersebut, lantaran tak mempunyai biaya untuk memperbaiki dan membangun rumahnya kembali serta persoalan keluarga yang menjadi alasan Erianto harus tinggal di bekas gudang Heler gilingan padi.
Informasi yang dihimpun awak media sabtu (30/8/2025), Keadaan keluarga miskin ini tidak luput dari perhatian pemerintah, terutama Pemerintah Nagari, karena tidak ada langkah-langkah strategis dengan memanfaatkan dana desa rumah untuk para dhuafa yang baru dan lahan barunya.
Dalam program untuk menekan angka kemiskinan bupati menegaskan pentingnya kita menekan angka kemiskinan saat ini.
Kepada awak media Erianto menyebutkan, dirinya bersama keluarga sudah pernah menempati rumah peninggalan tanah orang tua yang dahulu juga mendapatkan bantuan rumah,” ujarnya keawak media. Dikarenakan ada permasalahan urusan pribadi dengan mamak orang rumah Erianto harus keluar rumah tersebut.
Sudah hampir 6 tahun sedangkan kondisi tidak layak huni dibekas gudang mau tak mau harus Ia terima buat berlindung bersama kelurga,” ujarnya.
“Suami saya seorang pekerja serabutan apaadanya, untuk sekadar makan sehari-hari pun kerap kali kesulitan memenuhinya, karena dalam sehari Rp 30 ribu-Rp 50 ribu, apalagi untuk memperbaiki dan membuat rumah, sehingga kami harus pasrah dengan kondisi kehidupan seperti ini, “kata, Erianto.
Lanjutnya, sejak beberapa tahun terakhir sudah banyak orang yang mendokumentasi kondisinya, dan juga meminta KTP, KK, serta lainnya dengan alasan akan mengurus rumah bantuan, namun hingga sekarang Erianto hanya bisa mendirikan rumah ditanah orang tuanya Erianto sendiri,” tambahnya.
” Tak mungkin saya kembali kerumah itu pak, masalah saya tak nyaman lagi pak,” ungkapnya.
“Sejauh serta tahun ini belum ada bantuan beras dan bantuan lainnya dari pemerintah, baik bantuan rumah dhuafa sumber Dana Desa (DD) maupun lainnya, selama ini saya hanya menerima Bansos Beras saja, kami hanya harapkan kepada pemerintah untuk dapat memberikan rumah layak huni yang direncanakan ditanah keluarga saya
“harapnya didepan media.
Walinagari Lubuk Tingkok saat dihubungi oleh beberapa awak media.Juga membenarkan kalau salah satu warganya memang bertempat tinggal dibekas heler gilingan padi tersebut.
” Erianto sudah beberapa kali kami bujuk tinggal tempat semula hal hasil erianto tetap bersikeras tak mau,” ungkap walinagari saat dihubungi.
Waktu bersamaan jorongpun kami coba hubungi juga membenarkan Ia sudah dapat bantuan rumah di kampung istrinya, karna Erianto tak bagus hubungan dengan mamak istrinya maka tidak boleh Ia tinggal di kampungnya,” ungkap jorong diakhir cerita.